Suku Bunga The Fed Akan Naik, Bursa Asia Terancam Koreksi

Suku Bunga The Fed Akan Naik, Bursa Asia Terancam Koreksi
Ilustrasi: Bursa saham Asia diperkirakan mengalami koreksi menyusul sinyal kenaikan suku bunga The Fed. (Foto: NET)

JAKARTA – Bursa saham dan obligasi di Asia bersiap mengekor kejatuhan Wall Street. Kondisi ini dipicu oleh sinyal kuat dari Federal Reserve (The Fed) bahwa suku bunga acuan kemungkinan besar harus naik guna mengendalikan inflasi.

Kontrak berjangka indeks saham untuk pasar Jepang, Korea Selatan, dan Australia mengindikasikan pembukaan yang memerah di seluruh kawasan. Sebelumnya di AS, indeks S&P 500 merosot 1,2 persen dan Nasdaq 100 terpangkas 1 persen, sementara harga minyak mentah AS dibuka melemah pada Kamis (18/6).

Pasar obligasi regional juga bersiap menghadapi gelombang aksi jual mengikuti jejak surat utang pemerintah AS. Imbal hasil obligasi Treasury tenor dua tahun melonjak 13 basis poin menjadi 4,18 persen, sementara dolar AS terus menguat.

Di Asia, yen Jepang melemah ke level terendah terhadap dolar AS sejak Juli 2024, yang meningkatkan risiko intervensi otoritas setempat. Gubernur The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi persnya menegaskan komitmen bank sentral untuk memulihkan stabilitas harga di tengah inflasi yang bertahan di atas target 2 persen.

"Setengah anggota komite memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini, dan itu merupakan sinyal yang sangat kuat bagi pasar," kata Bob Michele, Chief Investment Officer dan Kepala Global Pendapatan Tetap di JPMorgan Asset Management sebagaimana dilansir dari sumber berita. "Saya pikir mereka sedang bersiap untuk menaikkan suku bunga," ujar Bob Michele sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Keputusan ini menandai pertemuan keempat berturut-turut di mana kebijakan suku bunga tidak berubah, namun para pejabat kini menilai pertumbuhan ekonomi "solid". Fokus The Fed saat ini telah bergeser dengan menganggap inflasi sebagai perhatian utama dibandingkan pelemahan pasar tenaga kerja.

"Perubahan sikap The Fed yang lebih hawkish belakangan ini bukan semata-mata karena kenaikan harga energi," kata Kay Haigh dari Goldman Sachs Asset Management sebagaimana dilansir dari sumber berita. "Meski harga minyak baru-baru ini mengalami penurunan, setengah anggota FOMC memperkirakan kenaikan suku bunga dapat terjadi secepat tahun ini, mencerminkan kuatnya data pasar tenaga kerja dan inflasi," ujar Kay Haigh sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Warsh juga mengumumkan pembentukan satuan tugas untuk meninjau neraca The Fed yang bernilai US$6,7 triliun. Di Jepang, investor masih mengkhawatirkan langkah Bank of Japan yang dinilai belum cukup cepat dalam mengetatkan kebijakan untuk menstabilkan yen.

Investor saat ini juga mencermati sektor teknologi Asia setelah pergerakan beragam di pasar AS. Di sisi geopolitik, Presiden Donald Trump membela kesepakatan damai sementara dengan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.

"Pasar sudah bergerak melampaui perang ini," kata Mike Wilson, analis strategi Morgan Stanley sebagaimana dilansir dari sumber berita. "Kami baru saja mengetahui betapa besarnya pasokan yang tersedia," ujar Mike Wilson sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index