The Fed Beri Sinyal Naikkan Suku Bunga, Wall Street Ditutup Melemah

The Fed Beri Sinyal Naikkan Suku Bunga, Wall Street Ditutup Melemah
Ilustrasi: Indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq melemah pada penutupan perdagangan Rabu (17/6). (Foto: NET)

JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Rabu (17/6) setelah Federal Reserve memberikan indikasi peluang kenaikan suku bunga tahun ini untuk mengendalikan inflasi yang masih tinggi. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing terkoreksi lebih dari 1 persen setelah pelaku pasar menilai arah kebijakan moneter The Fed kini lebih hawkish dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 507,12 poin atau 0,98 persen ke level 51.492,55. Indeks S&P 500 melemah 91,25 poin atau 1,21 persen menjadi 7.420,10, sementara Nasdaq Composite turun 354,69 poin atau 1,34 persen ke posisi 26.021,66.

Dalam rapat kebijakan yang berakhir Rabu, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen sesuai ekspektasi pasar. Namun, proyeksi ekonomi terbaru menunjukkan sembilan pejabat bank sentral memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir 2026 guna meredam tekanan inflasi.

The Fed juga menghapus pernyataan sebelumnya yang mengindikasikan peluang pemangkasan suku bunga tahun ini, sebuah langkah yang dinilai memperkuat sikap hawkish bank sentral. Ketua The Fed Kevin Warsh, yang memimpin rapat pertamanya sejak menjabat, menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas harga.

"Kami akan memastikan mandat stabilitas harga tetap tercapai," ujar Warsh dalam konferensi pers usai rapat sebagaimana dilansir dari sumber berita. Warsh juga memperkenalkan agenda evaluasi menyeluruh terhadap proses pengambilan kebijakan moneter The Fed.

Ia berharap pasar keuangan lebih fokus membaca data ekonomi ketimbang menebak-nebak arah kebijakan pejabat bank sentral. Pasca rapat tersebut, pasar uang mulai meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September mendatang.

Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun turun menjadi sekitar 13 persen, dari 40 persen sehari sebelumnya. Managing Director sekaligus Equity Sales Trader Rosenblatt Securities, Michael James, menilai pernyataan The Fed dan komentar Warsh memberikan sinyal yang jelas mengenai fokus bank sentral terhadap pengendalian inflasi.

"Terdapat nada yang cukup hawkish dalam pernyataan The Fed maupun konferensi pers Ketua Warsh. Pesan utamanya adalah komitmen kuat untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi," ujar Michael James sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Tekanan jual terjadi di seluruh sektor utama dalam indeks S&P 500 dan seluruh 11 sektor ditutup di zona merah. Sektor layanan komunikasi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan sekitar 3 persen, sementara sektor industri mencatat pelemahan paling terbatas, hanya sekitar 0,1 persen.

Saham perbankan regional juga mengalami tekanan lebih besar dibandingkan dengan bank-bank besar. Indeks KBW Regional Banking turun 1,8 persen, sedangkan indeks perbankan dalam S&P 500 hanya melemah 0,2 persen.

Menurut James, bank regional cenderung lebih sensitif terhadap kenaikan suku bunga dibandingkan bank-bank besar. Sentimen suku bunga tinggi juga membebani sektor properti, di mana ETF State Street SPDR S&P 500 Homebuilders turun 2,3 persen karena kenaikan biaya pinjaman berpotensi menekan permintaan perumahan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index