JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tengah mematangkan rencana kerja keberlanjutan energi dengan mengimplementasikan pemanfaatan biodiesel secara bertahap. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk dukungan KAI terhadap program pemerintah dalam memperluas penggunaan energi baru terbarukan dan meminimalkan emisi karbon di sektor transportasi.
Proses transisi bahan bakar ini dijalankan selaras dengan regulasi mandatori biodiesel dari pemerintah. Riwayat penggunaan bahan bakar operasional KAI tercatat terus meningkat, mulai dari B0 pada 2017 hingga diarahkan menuju pemanfaatan B50 pada 2026.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengemukakan bahwa transisi energi dari B0 hingga B50 menjadi bukti nyata konsistensi kebijakan energi nasional. Kesiapan operator transportasi publik dalam menerjemahkan kebijakan tersebut ke dalam layanan yang andal menjadi kunci utama.
"Transformasi energi Indonesia membutuhkan sektor transportasi yang mampu beradaptasi secara terukur. KAI memperkuat peran kereta api melalui roadmap biodiesel dari B0 menuju B50, dengan memastikan setiap tahapan berjalan selaras dengan keselamatan, keandalan layanan, efisiensi energi, dan penurunan emisi," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Menurut Bobby, industri perkeretaapian memiliki peran krusial dalam mobilitas publik, kelancaran logistik, dan target dekarbonisasi nasional. Setiap kebijakan efisiensi energi diyakini akan memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan layanan serta meningkatkan daya saing logistik nasional.
"Kereta api bekerja untuk masyarakat dan ekonomi nasional. Karena itu, transisi energi di KAI harus menghasilkan manfaat yang dapat dihitung mulai dari layanan tetap andal, penggunaan energi semakin efisien, dan kontribusi terhadap keberlanjutan semakin jelas," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menambahkan bahwa perpindahan jenis bahan bakar ini dilaksanakan secara bertahap melalui koordinasi teknis yang intensif. KAI memastikan setiap tahapan pengujian biodiesel dilakukan agar keamanan layanan pelanggan dan sektor logistik tetap terjaga.
"KAI mendukung kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan. Pada saat yang sama, kami memastikan setiap tahapan penggunaan biodiesel berjalan melalui pengujian teknis dan evaluasi agar layanan kepada pelanggan serta sektor logistik tetap aman dan andal," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Sinergi antara KAI dan Kementerian ESDM dalam menguji coba penerapan B50 telah dimulai sejak April 2026. Pengujian dilakukan pada unit lokomotif dan genset kereta untuk mengevaluasi performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi, serta daya tahan sarana.
Untuk pengujian lokomotif, KAI menggunakan tipe CC206 pada rangkaian KA Sembrani dengan melakukan studi komparasi antara varian B40 dan B50. Memasuki Juni 2026, KAI kini berada dalam fase pemantauan serta evaluasi teknis mendalam sebelum B50 diimplementasikan secara luas.
Penerapan B50 merupakan bagian dari program strategis dekarbonisasi KAI periode 2025–2030. Migrasi bahan bakar dari B35 menuju B50 ditargetkan mampu memangkas emisi karbon hingga 133.676 ton $CO_{2}e$.
"Dengan dukungan pemerintah, KAI akan terus menjaga layanan transportasi publik dan logistik tetap andal, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap ketahanan energi nasional, penurunan emisi, dan daya saing ekonomi," sebagaimana dilansir dari sumber berita.