Prospek Pembukaan Selat Hormuz Bikin Harga Minyak Anjlok 5 Persen

Prospek Pembukaan Selat Hormuz Bikin Harga Minyak Anjlok 5 Persen
Ilustrasi: Harga minyak dunia turun tajam setelah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz muncul. (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai minyak mentah dunia kembali merosot tajam dan mencapai posisi paling rendah dalam tiga bulan terakhir menyusul munculnya harapan tercapainya rekonsiliasi temporer guna menyudahi ketegangan di Timur Tengah. Kesepakatan ini bertujuan untuk mengoperasikan kembali rute pelayaran strategis Selat Hormuz.

Pada aktivitas transaksi Selasa (16/6/2026), minyak mentah Brent berakhir menyusut US$ 4,21 atau 5,1% ke posisi US$ 78,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat anjlok US$ 4,70 atau 5,8% ke angka US$ 76,05 per barel.

Respons pasar membaik sesudah poin-poin mufakat temporer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai terekspos. Kesepakatan itu dikabarkan bakal memperpanjang masa gencatan senjata yang telah dirilis pada April lalu untuk 60 hari ke depan, sekaligus membuka kembali jalur Selat Hormuz.

Pejabat AS mengonfirmasi bahwa mufakat tersebut juga memberi peluang bagi Iran untuk mengapalkan kembali komoditas minyaknya pascapenandatanganan dilakukan. Ekspektasi bertambahnya suplai dari Iran membuat para pelaku pasar menilai risiko hambatan pasokan global bakal berkurang secara drastis.

“Pasar minyak turun cepat karena asumsi Selat Hormuz akan segera dibuka kembali,” kata Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Sebelum ketegangan meluas, kurang lebih 20% dari total pasokan minyak dunia melintasi jalur maritim tersebut.

Beberapa analis memandang bahwa optimisme di pasar saat ini masih terlalu dini mengingat pemulihan aktivitas niaga memerlukan waktu beberapa pekan. Selain itu, persoalan krusial seperti kompensasi finansial, sanksi ekonomi, serta penyelesaian program nuklir Iran tetap menjadi tantangan besar.

Sentimen negatif ini memicu perbankan investasi global seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citi memotong estimasi harga minyak mereka. Nilai minyak juga tertekan oleh kekhawatiran atas melambatnya roda perekonomian China yang tercermin dari penurunan aktivitas pemrosesan minyak sebesar 9,1% pada Mei lalu.

Prospek suku bunga global yang diprediksi bertahan di level tinggi turut menekan harga karena berisiko menahan laju ekonomi dan konsumsi energi. Pasar juga mencermati potensi perdamaian Rusia-Ukraina yang dapat memicu kembali ekspor minyak dari Rusia dan memberikan tekanan tambahan bagi harga.

Para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data cadangan minyak mentah Amerika Serikat. Analis memprediksi stok minyak AS berkurang kurang lebih 4,6 juta barel pada minggu yang berakhir 12 Juni, yang berpotensi menjadi penahan minor bagi pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index