Sentimen Damai AS-Iran dan Ekonomi Domestik Dorong Penguatan Rupiah

Sentimen Damai AS-Iran dan Ekonomi Domestik Dorong Penguatan Rupiah
Ilustrasi: Rupiah menguat 0,72 persen terhadap dolar AS pada penutupan pekan lalu. (Foto: NET)

JAKARTA – Performa mata uang rupiah mencatatkan apresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan pekan kemarin. Keperkasaan rupiah ditopang oleh perpaduan stimulus positif dari dalam negeri serta pulihnya minat risiko pada pasar global.

Tren penguatan mata uang Garuda ini diproyeksikan masih akan berlanjut pada perdagangan Senin (15/6/2026). Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot berakhir menguat sebesar 0,72 persen ke posisi Rp 17.860 per dolar AS pada hari Jumat (12/6).

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengemukakan bahwa harapan atas terwujudnya traktat damai antara AS dan Iran berpeluang menekan laju harga minyak mentah dunia. Situasi ini memicu atmosfer risk-on di pasar finansial sekaligus mendongkrak minat pemodal pada aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Menurut analisis Lukman, dinamika tersebut akan menjadi motor penggerak utama pasar pada pembukaan pekan ini. Jika optimisme terhadap rekonsiliasi damai terjaga, permintaan terhadap aset berisiko berpotensi meningkat.

Di sisi lain, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi berpandangan bahwa penguatan rupiah turut dipicu oleh langkah Bank Dunia yang merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke atas. Bank Dunia mengestimasi ekonomi Indonesia mampu tumbuh di level 5,0 persen pada tahun 2026, sejalan dengan kinerja kuartal I-2026 yang lebih kuat dari estimasi awal.

PDB Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal I-2026, rekor tertinggi sejak kuartal II-2021. Pertumbuhan ini didorong oleh lonjakan konsumsi rumah tangga selama Ramadan dan Idul Fitri, distribusi THR, serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Pertumbuhan ekonomi yang solid memberikan keyakinan terhadap prospek fundamental domestik dan menjadi sentimen positif bagi rupiah," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meskipun demikian, Bank Dunia mengingatkan adanya risiko yang perlu diwaspadai, seperti ruang fiskal yang menyempit dan potensi beban subsidi akibat fluktuasi harga minyak global. Selain itu, dinamika ketidakpastian pasar keuangan terkait evaluasi indeks MSCI juga menjadi catatan bagi ekonomi nasional.

Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 17.700–Rp 17.850 per dolar AS dalam sesi perdagangan Senin (15/6/2026). Sementara itu, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.860–Rp 17.910 per dolar AS.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index