Harga Emas Masuki Fase Bearish, Simak Prospek Saham Produsen Emas

Harga Emas Masuki Fase Bearish, Simak Prospek Saham Produsen Emas
Ilustrasi Kinerja emiten seperti BRMS dan MDKA diuntungkan oleh target produksi emas yang masif pada 2026. (Gambar: NET)

JAKARTA – Tren pelemahan harga emas dunia masih terus berlanjut hingga saat ini. Para emiten produsen emas perlu mewaspadai dampak yang ditimbulkan akibat koreksi harga komoditas tersebut.

Berdasarkan data situs Trading Economics, harga emas dunia telah terkoreksi 9,03% dalam sepekan terakhir ke level US$ 4.070,64 per ons troi pada Kamis (11/6/2026) pukul 19.45 WIB. Kini, harga emas telah terkoreksi 5,77% year to date (ytd) sejak awal tahun.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memandang volatilitas harga komoditas sebagai bagian dari siklus industri yang harus dikelola secara prudent. Di sisi lain, ANTM menilai permintaan emas domestik masih menunjukkan tren yang baik seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap investasi berbasis emas.

"Perusahaan terus berfokus pada penguatan fundamental operasional, efisiensi biaya, serta pengembangan hilirisasi untuk menjaga kinerja yang berkelanjutan di tengah dinamika pasar," ujar Corporate Secretary Aneka Tambang Wisnu Danandi Haryanto kepada Kontan, Kamis (11/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Strategi utama ANTM adalah menjaga keseimbangan antara optimalisasi operasional, efisiensi biaya, serta penguatan pasar domestik. ANTM terus meningkatkan kualitas layanan dan memperluas akses masyarakat terhadap produk emas ANTAM melalui berbagai kanal distribusi serta sinergi dengan para mitra strategis.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan bahwa posisi harga emas saat ini sebenarnya masih berada di atas breakeven emiten. Dengan demikian, margin keuntungan para emiten dinilai masih cukup terjaga di atas kertas.

Kendati demikian, Wafi menilai ada kelompok emiten yang berpotensi paling terdampak oleh tren koreksi harga emas. Sebagai contoh, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dianggap cukup sensitif terhadap perubahan harga jual rata-rata atau average selling price.

Selain itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga relatif rentan tertekan karena adanya eksposur tembaga dan/atau nikel. “Pelemahan harga emas kali ini lebih de-risking valuasi premium sektor tersebut,” kata dia, Kamis (11/6), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Secara umum, potensi pertumbuhan kinerja emiten produsen emas masih cukup terbuka pada 2026, terutama jika diukur dari kemampuan produksi. Emiten seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan MDKA melalui PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) bakal diuntungkan dengan target produksi yang masif tahun ini, yakni masing-masing 80.000 ons troi dan 100.000—115.000 ons troi.

Tingginya volume tersebut diyakini dapat mengimbangi risiko rendahnya average selling price seiring pelemahan harga emas global. Katalis positif lainnya muncul dari pelemahan kurs rupiah yang menguntungkan emiten dengan pendapatan dolar AS, serta aksi pembelian emas oleh bank sentral global.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa harga emas yang tertekan menjadi tantangan tersendiri bagi emiten. Dalam kondisi ini, peningkatan volume produksi kerap menjadi strategi untuk menjaga pertumbuhan pendapatan, meskipun sangat bergantung pada efisiensi operasional.

“Jika peningkatan volume produksi diikuti oleh peningkatan variabel biaya yang besar, maka laba bersih emiten tetap akan tertekan,” ungkap dia, Kamis (11/6), sebagaimana dilansir dari berita sumber. Sebaliknya, emiten yang mampu menjaga struktur biaya tetap efisien akan lebih mudah mempertahankan stabilitas profitabilitasnya.

Selain efisiensi, emiten perlu mempertimbangkan langkah strategis jangka panjang seperti eksplorasi cadangan baru untuk memperpanjang umur tambang. Momentum permintaan emas yang tinggi juga harus dimaksimalkan dengan ekspansi fasilitas pengolahan guna memperkuat daya saing perusahaan.

Nafan merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga Rp 3.390 per saham, serta akumulasi beli saham BRMS dan HRTA dengan target harga masing-masing Rp 775 dan Rp 2.970 per saham. Sementara itu, Wafi menyarankan investor untuk mempertimbangkan BRMS dan ANTM sebagai emiten unggulan karena kemampuan produksi tinggi dan diversifikasi bisnis yang dimiliki.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index