JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) pada Bursa Malaysia Derivatives (BMD) membukukan penguatan pada Senin (8/6/2026), setelah menghadapi tekanan dalam kurun beberapa sesi perdagangan belakangan.
Lonjakan ini disokong oleh terdepresiasinya mata uang ringgit Malaysia, apresiasi harga minyak kedelai di Bursa Chicago, serta melesatnya harga minyak mentah global yang memperlebar prospek serapan biodiesel.
Mengacu pada data BMD saat penutupan perdagangan Senin (8/6/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Juni 2026 terangkat sebesar 13 ringgit Malaysia ke level 4.505 ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO dengan tenggat Juli 2026 turut merangkak naik 13 ringgit Malaysia menuju posisi 4.539 ringgit Malaysia per ton.
Di lain pihak, nilai kontrak berjangka CPO periode Agustus 2026 terpantau menguat 21 ringgit Malaysia menjadi 4.575 ringgit Malaysia per ton. Sementara untuk kontrak berjangka CPO jatuh tempo September 2026 menanjak 23 ringgit Malaysia ke posisi 4.607 ringgit Malaysia per ton.
Selanjutnya, kontrak berjangka CPO masa Oktober 2026 terdongkrak naik 22 ringgit Malaysia di posisi 4.638 ringgit Malaysia per ton, sedangkan untuk kontrak berjangka CPO tenggat November 2026 terpantau menguat sebesar 24 ringgit Malaysia menjadi 4.671 ringgit Malaysia per ton.
Pemulihan nilai CPO didorong oleh melemahnya kurs ringgit yang mendongkrak daya saing ekspor komoditas Malaysia di pasar internasional. Bukan hanya itu, tren kenaikan nilai minyak kedelai (soyoil) pada Bursa Chicago ikut mendatangkan sentimen positif bagi pasar minyak nabati.
Suntikan tenaga tambahan juga berasal dari meroketnya harga minyak mentah dunia. Kian tingginya ketidakpastian seputar ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta menipisnya harapan akan titik temu damai dalam waktu dekat ikut menyeret harga energi melambung. Kondisi ini pada gilirannya ikut mengokohkan proyeksi kebutuhan biodiesel dengan bahan baku minyak kelapa sawit.
Beralih ke Tanah Air, pemerintah Indonesia merilis regulasi teknis anyar yang memperketat koridor pengawasan aktivitas ekspor bagi sejumlah komoditas utama, termasuk komoditas minyak kelapa sawit.
Langkah kebijakan ini dinilai punya potensi untuk memindahkan sebagian permintaan pasar internasional menuju Malaysia dalam interval waktu jangka pendek.
Walau begitu, laju penguatan nilai CPO ini masih tertahan oleh tren pelemahan harga minyak nabati kompetitor yang diperdagangkan pada Bursa Dalian, China, di samping adanya ekspektasi bahwa volume pasokan tetap melimpah.
Hasil jajak pendapat dari Reuters mengindikasikan bahwa volume stok minyak sawit milik Malaysia berpotensi kembali menanjak pada Mei kemarin. Akumulasi stok tersebut diprediksi terjadi akibat penurunan volume ekspor yang jauh lebih masif ketimbang penyusutan pada sektor produksi.
Data dari pihak lembaga survei kargo turut memperlihatkan bahwa aktivitas pengiriman minyak kelapa sawit asal Malaysia sepanjang periode Mei merosot di kisaran 8,8% sampai 15,5% bila disandingkan dengan bulan April, mengindikasikan masih lesunya serapan pasar global.
Sementara itu, volume pembelian dari India selaku negara importir minyak sawit terbesar di dunia memang terpantau mulai bangkit dari level paling rendah dalam empat bulan terakhir yang sempat tercatat pada April silam.
Akan tetapi, kuantitas impor tersebut masih berada di bawah batasan normal, sehingga belum sanggup memberikan stimulus yang berarti bagi pergerakan harga
Kini, para pelaku pasar tengah menantikan rilis data resmi menyangkut angka produksi, ekspor, beserta total persediaan minyak sawit Malaysia yang bakal diumumkan dalam beberapa waktu ke depan guna membaca potret yang lebih transparan dari sisi fundamental pasar.