Dinamika Harga Emas, Analis Soroti Level Support 4.319 Dolar AS

Dinamika Harga Emas, Analis Soroti Level Support 4.319 Dolar AS
Ilustrasi, Harga emas global menurun ke posisi terendah sejak Desember 2025 di level US$ 4.329 per ons troi. (Gambar: NET)

NEW YORK – Nilai dagang emas di kancah internasional diproyeksikan masih tertahan dalam posisi yang rawan sepanjang pekan ini, usai membukukan kejatuhan yang cukup dalam hingga melampaui 4,7 persen dalam kurun waktu sepekan kemarin.

Meroketnya performa data makroekonomi Amerika Serikat (AS) serta menebalnya prediksi pasar atas potensi penyesuaian suku bunga acuan oleh The Fed mengakibatkan aset logam mulia ini kehilangan daya pikatnya sebagai instrumen lindung nilai.

Nilai jual emas dilaporkan ambruk sebanyak 3,26 persen menuju posisi US$ 4.329,33 per ons troi pada penutupan sesi perdagangan Jumat (5/6/2026), yang menjadi level terendah sejak periode Desember 2025.

Tak hanya itu, rapor merah ini sekaligus melenyapkan seluruh akumulasi keuntungan yang sempat diraih sepanjang tahun berjalan, hingga membuat kinerjanya berbalik minus 0,4 persen secara year to date (ytd), mengingat pada pembukaan 1 Januari 2026 harga komoditas ini berada pada level US$ 4.348 per ons troi.

Analis dari Forex.com, Michael Boutros, mengemukakan pandangan bahwa dinamika fluktuasi emas saat ini tengah berada di area krusial yang bakal mendikte arah pergerakan tren ke depan. Dalam penilaiannya, posisi US$ 4.319 per ons troi menjadi batas penopang krusial yang wajib dipertahankan agar komoditas ini terhindar dari gempuran aksi lepas yang lebih masif.

"Harga emas sedang menguji support utama di area US$ 4.319 per ons troi. Reaksi pasar pada level ini akan menjadi penentu apakah koreksi mulai mereda atau justru berkembang menjadi penurunan yang lebih besar," ujar Michael Boutros dalam riset terbarunya, Minggu (7/6/2026). Sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Boutros memaparkan, beban yang menghimpit pergerakan emas kian berat setelah rilis data ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) di AS menunjukkan hasil yang melampaui ekspektasi.

Realitas tersebut mendorong para pelaku pasar untuk merombak proyeksi suku bunga mereka sekaligus mendongkrak kekuatan mata uang dolar AS, yang pada akhirnya memberikan tekanan bagi nilai emas.

Menurut pandangan Boutros, andai harga emas kedapatan gagal mempertahankan posisinya di atas level US$ 4.319 per ons troi serta berakhir di bawah batas itu, maka ruang bagi penurunan lanjutan menuju area support berikutnya di kisaran US$ 4.195 per ons troi hingga menyentuh US$ 4.112 per ons troi bakal terbuka semakin lebar.

"Penutupan harga di bawah US$ 4.319 per ons troi dapat memicu gelombang pelemahan berikutnya. Namun, area US$ 4.195 per ons troi hingga US$ 4.112 per ons troi juga berpotensi menjadi zona kelelahan tren turun yang dapat memunculkan rebound teknikal, kata dia. Sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di lain pihak, Boutros menjabarkan bahwa kans untuk pemulihan harga tetap terbuka sepanjang nilai emas mampu bertahan di atas batas penopang tersebut. Kendati demikian, Boutros memberikan catatan bahwa setiap upaya pembalikan arah naik masih akan membentur dinding resistensi yang kokoh pada rentang US$ 4.493 per ons troi sampai dengan US$ 4.540 per ons troi.

"Selama harga masih bergerak di bawah area resistensi tersebut, tren jangka pendek emas tetap cenderung negatif. Diperlukan penembusan yang meyakinkan di atas zona itu untuk mengindikasikan bahwa tekanan turun mulai berakhir," jelasnya. Sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain indikator teknikal, fokus perhatian para penanam modal pada pekan ini juga mengarah pada publikasi data inflasi domestik AS yang dijadwalkan keluar pada Rabu (10/6/2026). Estimasi kolektif pasar memproyeksikan Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk periode Mei bakal mencatatkan kenaikan sebesar 0,3 persen dalam hitungan bulanan.

Boutros berpendapat bahwa data inflasi tersebut berpotensi menjadi stimulan utama bagi pergerakan jangka pendek emas. Apabila laju inflasi kembali memperlihatkan pertumbuhan yang solid, pelaku pasar akan semakin meyakini bahwa kubu The Fed bakal mempertahankan kebijakan moneter ketat mereka dalam periode yang lebih panjang.

"Selama ekspektasi suku bunga tetap tinggi dan tekanan inflasi belum mereda, harga emas masih rentan terhadap tekanan jual. Karena itu, investor perlu mencermati data CPI serta respons harga di sekitar level US$ 4.319 per ons troi sebagai petunjuk arah pasar selanjutnya," pungkasnya. Sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index