Saham BUMI Jadi Incaran Asing Meski Sedang Anjlok Tajam

Saham BUMI Jadi Incaran Asing Meski Sedang Anjlok Tajam
Ilustrasi tambang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) (Foto: NET)

JAKARTA – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) justru diborong oleh investor asing di tengah aksi jual besar-besaran yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang sepekan terakhir.

Investor asing mencatatkan transaksi beli bersih (net buy) saham BUMI sebesar Rp 266,6 miliar selama periode 2-5 Juni 2026. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang diakses pada Minggu (7/6/2026), pembelian tersebut terjadi di pasar reguler Bursa Efek Indonesia. Transaksi net buy asing pada saham BUMI dalam sepekan terakhir merupakan yang tertinggi dibandingkan saham-saham lainnya.

Setelah BUMI, saham yang mencatatkan net buy asing adalah PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) senilai Rp 187,8 miliar dan PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp 145 miliar.

Secara umum, investor asing melakukan transaksi jual bersih (net sell) mencapai Rp 7,3 triliun di seluruh pasar BEI selama sepekan terakhir. Angka ini merupakan kelanjutan dari pekan sebelumnya, di mana investor asing melakukan net sell senilai Rp 12,3 triliun.

Sementara itu, pada perdagangan Jumat (5/6/2026), saham Bumi Resources (BUMI) ditutup merosot 7,3 persen ke level Rp 139. Dalam sepekan terakhir, harga saham BUMI telah turun tajam 17,2 persen dan dalam satu bulan terakhir ambles 39,5 persen. Sepanjang tahun berjalan (year to date), BUMI telah terkoreksi 62 persen.

BUMI kini memasuki fase baru dalam pengembangan bisnisnya. Selain penerbitan obligasi, perhatian pasar tertuju pada penggunaan dana sebesar Rp 1,5 triliun untuk pinjaman kepada anak usahanya, PT Arutmin Indonesia.

Langkah ini sempat menimbulkan pertanyaan dari sebagian pelaku pasar mengenai alasan BUMI memilih skema pinjaman ketimbang penambahan modal langsung kepada anak usaha. Namun, pihak BUMI menyatakan bahwa transaksi tersebut memiliki latar belakang strategis terkait agenda ekspansi jangka panjang grup.

Salah satu fokus utama Arutmin dalam menjaga keberlanjutan operasional, termasuk proses perpanjangan izin usaha pertambangan, adalah pengembangan hilirisasi batu bara. Inisiatif tersebut merupakan bagian dari roadmap business development BUMI. Dana pinjaman tersebut nantinya akan digunakan untuk mendukung implementasi program gasifikasi batu bara.

Salah satu fokus pengembangan yang sedang digarap adalah proyek konversi batu bara menjadi produk kimia dasar metanol. Proyek ini membutuhkan investasi awal yang cukup besar untuk pembangunan fasilitas pengolahan serta infrastruktur pendukung.

Manajemen Arutmin mengungkapkan bahwa kebutuhan belanja modal untuk proyek gasifikasi batu bara mencapai US$ 2,5 miliar atau hampir setara Rp 43 triliun.

Proyek gasifikasi batu bara ini diharapkan mampu menghasilkan metanol dengan kapasitas produksi 2 juta ton, dengan kebutuhan batu bara berkalori rendah sebesar 7,7 juta ton. Groundbreaking dijadwalkan pada 2026 dan produksi ditargetkan mulai pada 2029.

Analis Ciptadana Sekuritas, Ryan Santoso, menilai pemberian pinjaman dari BUMI kepada Arutmin merupakan transaksi afiliasi dengan dasar bisnis yang jelas dan masih berada dalam koridor penciptaan nilai tambah bagi pemegang saham.

Menurut Ryan, penggunaan dana tersebut tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan operasional jangka pendek, tetapi juga mendukung proyek strategis yang memiliki potensi menghasilkan nilai tambah lebih tinggi di masa depan.

"Tujuan penggunaannya jelas, yakni mendukung keberlanjutan aset tambang sekaligus mempersiapkan proyek hilirisasi yang berpotensi memperluas sumber pendapatan grup," ujar Ryan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index