Sempat Tertekan, Rupiah Menguat ke 18.036 per Dolar AS Akhir Pekan

Sempat Tertekan, Rupiah Menguat ke 18.036 per Dolar AS Akhir Pekan
Ilustrasi uang kertas rupiah dan dolar AS (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis ke level Rp18.036 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan Jumat (5/6/2026) pukul 15.00 WIB.

Mata uang Garuda berhasil naik 13 poin atau sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari Kamis (4/6/2026) yang sempat tertahan di level Rp18.049 per dolar AS.

Apresiasi minor ini terjadi setelah mata uang nasional terus berada di bawah tekanan hebat sepanjang pekan pertama Juni 2026. Berdasarkan data pasar, penguatan tipis pada akhir perdagangan ini memperlihatkan adanya upaya stabilisasi di tengah tren pelemahan jangka panjang yang cukup signifikan.

Sebelumnya, kurs USD/IDR sempat merangkak naik menuju level 17.999,9000 pada perdagangan 4 Juni 2026, memperlihatkan kenaikan harian sebesar 0,26 persen dari sesi sebelumnya. Tekanan jual yang tinggi terhadap aset domestik terus membayangi pergerakan mata uang sepanjang periode berjalan.

Secara historis, pergerakan nilai tukar USD/IDR menembus rekor terburuknya baru-baru ini. Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah mencatatkan titik tertinggi sepanjang masa di angka Rp18.076 per dolar AS pada bulan Juni 2026 ini, yang memicu perhatian ketat dari para pelaku pasar komoditas dan investasi keuangan.

Jika dihitung dalam jangka waktu yang lebih luas, rupiah Indonesia tercatat melemah sebesar 3,45 persen selama sebulan terakhir. Tidak hanya itu, performa mata uang domestik juga mengalami penurunan mendalam hingga 10,73 persen selama 12 bulan ke belakang akibat berbagai sentimen makroekonomi.

Dalam basis mingguan, rupiah berada di jalur penurunan untuk kesepuluh kalinya berturut-turut. Secara keseluruhan, mata uang Indonesia mencatatkan total pelemahan mingguan sekitar 0,9 persen, sementara secara year-to-date (ytd) kemerosotan nilainya sudah mencapai kisaran 7,5 persen.

Pelemahan nilai tukar ini tidak lepas dari menyusutnya amunisi penopang eksternal Indonesia. Berdasarkan data ekonomi terbaru, cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan sebesar USD 2 miliar pada bulan April, sehingga posisi akhirnya kini melandai ke angka USD 146,2 milar.

Kondisi tersebut diperparah oleh aksi jual investor global di pasar keuangan domestik. Data kepemilikan asing atas obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah Indonesia dilaporkan merosot tajam ke level terendah dalam hampir 20 tahun terakhir per tanggal 2 Juni.

Dari sisi domestik, laju inflasi Indonesia juga menunjukkan tren kenaikan yang memicu kekhawatiran pasar. Tingkat inflasi nasional tercatar berada di level 3,08 persen pada Mei 2026, mengalami lonjakan dibandingkan dengan periode sebelum ini yang berada di angka 2,42 persen.

Faktor perbedaan suku bunga dan kondisi ketenagakerjaan di tingkat global turut memengaruhi arus modal eksternal. Perbedaan kebijakan moneter antara Bank Indonesia dan Bank Sentral AS (The Fed) menjadi salah satu penentu utama kekuatan nilai tukar.

Kebijakan moneter dalam negeri sebenarnya telah merespons tekanan ini melalui instrumen suku bunga. Suku bunga acuan Indonesia saat ini berada di level 5,25 persen pada Mei 2026, setelah diputuskan naik dari periode sebelumnya yang tertahan di angka 4,75 persen guna meredam volatilitas nilai tukar.

Di sisi lain, tingkat inflasi AS tercatat sebesar 3,80 persen pada April 2026, naik dari periode sebelumnya sebesar 3,30 persen. Adapun suku bunga AS masih bertahan kuat di level 3,75 persen pada Mei 2026, yang berjalan beriringan dengan tingkat pengangguran AS di level 4,30 persen.

Langkah intervensi di pasar valuta asing oleh Bank Indonesia dinilai menjadi penahan utama yang mencegah rupiah terjatuh lebih dalam pada penutupan pekan ini. Pelaku pasar keuangan kini terus mencermati perkembangan rilis data tenaga kerja global dan kebijakan lanjutan otoritas moneter untuk menentukan arah pergerakan kurs pada pembukaan perdagangan pekan depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index