JAKARTA – PT Harum Energy Tbk. (HRUM) menargetkan produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) mencapai 50.000 ton pada tahun ini, setelah PT Blue Sparking Energy (BSE) beroperasi secara penuh pada Maret 2026.
Direktur Utama HRUM, Ray Antonio Gunara, menyampaikan bahwa BSE sebetulnya sudah mengawali kegiatan produksi sejak akhir tahun 2025. Akan tetapi, penjualan secara komersial baru dapat dilaksanakan pada akhir Maret 2026.
"BSE membukukan penjualan sebanyak 4.091 ton nikel dalam bentuk MHP," ujar Ray dalam paparan publik, Rabu (3/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ray juga memaparkan bahwa tingkat keterpakaian atau utilisasi dari fasilitas HPAL BSE saat ini sudah hampir menyentuh angka 100%. Berkat pencapaian tersebut, pihak HRUM merasa optimistis jika volume produksi MHP sepanjang tahun 2026 mampu menyentuh kisaran antara 45.000 sampai dengan 50.000 ton.
“Utilisasi kapasitas PT BSE sudah mendekati 100%, sehingga kami harapkan produksi MHP di BSE dapat mencapai kurang lebih antara 45.000 sampai 50.000 ton sampai akhir tahun 2026 ini," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Walau demikian, Ray tidak menampik bahwa lonjakan harga sulfur memiliki potensi untuk memengaruhi tatanan struktur biaya produksi BSE ke depannya. Menurut pemaparannya, imbas dari kenaikan harga sulfur terhadap tatanan biaya BSE tidak akan dirasakan secara seketika karena perseroan masih menyimpan stok sulfur yang dibeli dengan harga lama sebelum lonjakan harga terjadi di awal tahun ini.
"Kenaikan biaya produksi dari BSE akan naik secara bertahap, karena sebelum kenaikan signifikan harga sulfur, PT BSE sudah memiliki inventori sulfur yang masih menggunakan harga sebelum kenaikan belakangan ini," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kendati demikian, ia menambahkan bahwa seiring bergulirnya waktu, BSE mau tidak mau harus tetap membeli sulfur dengan mengikuti harga teraktual yang berlaku di pasar. Oleh sebab itu, tren kenaikan harga sulfur diprediksi akan mulai terlihat pada beban biaya produksi perseroan.
Ray turut menguraikan bahwa di tengah adanya potensi pembengkakan biaya tersebut, peluang untuk membebankan atau melakukan pass-through kenaikan biaya kepada pihak pembeli masih tetap terbuka, meskipun dalam porsi yang terbatas.
"Pada umumnya kami bisa mem-pass-through kenaikan biaya itu kepada pelanggan, namun hanya sebatas tingkat tertentu. Yang mempengaruhi berapa besar biaya yang bisa di-pass-through adalah demand dan supply dari produk itu sendiri," tutur Ray, sebagaimana dilansir dari berita sumber.