Peluang Diplomasi AS dan Iran Picu Harga Minyak Dunia Merosot

Peluang Diplomasi AS dan Iran Picu Harga Minyak Dunia Merosot
Ilustrasi tambang minyak lepas pantai (Foto: NET)

JAKARTA – Perubahan sentimen global memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap pergerakan pasar energi saat ini. Kondisi tersebut memicu koreksi tajam pada harga minyak dunia hingga ambles lebih dari 5% dalam sesi transaksi pada Kamis (28/5/2026).

Penurunan nilai komoditas ini terjadi menyusul adanya pernyataan dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, yang memastikan bahwa pihak Washington hingga kini tetap membuka kesempatan lebar-lebar demi tercapainya hasil positif dalam proses negosiasi dengan Iran.

Merujuk pada data laporan pasar, harga kontrak minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) terkunci melemah lebih dari 5% hingga menyentuh level US$88,68 per barel. Pada waktu yang bersamaan, pelemahan lebih dari 5% juga melanda harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan dunia, di mana posisinya berakhir di angka US$94,29 per barel.

Pernyataan dari Rubio tersebut diutarakan di tengah agenda rapat kabinet yang berlangsung di Gedung Putih. Dirinya mengungkapkan bahwa jalinan komunikasi antara kubu AS dan Iran mengindikasikan adanya sinyal kemajuan yang positif, sekalipun situasi geopolitik di area Timur Tengah saat ini masih diselimuti atmosfer ketegangan.

Kendati Presiden Donald Trump memprioritaskan penyelesaian lewat jalur diplomasi, ia dikabarkan tetap menyiapkan alternatif lain apabila proses perundingan tersebut menemui jalan buntu, yang disinyalir mengarah pada opsi tindakan militer baru.

"Intinya adalah kami lebih memilih jalur diplomasi yang dinegosiasikan dan kami akan memberikan setiap kesempatan agar berhasil," kata Rubio , Kamis (28/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump turut menggarisbawahi bahwa Iran sama sekali tidak akan diizinkan untuk menguasai ataupun memegang kendali atas Selat Hormuz dalam klausul kesepakatan apa pun nantinya.

Kawasan selat tersebut merupakan urat nadi yang sangat krusial bagi kelancaran aktivitas perdagangan energi internasional, mengingat kurang lebih 20% dari total pasokan minyak di tingkat global melintasi wilayah tersebut sebelum terjadinya konflik.

"Selat itu akan terbuka bagi semua orang. Itu adalah perairan internasional, tidak ada yang akan mengendalikannya," kata presiden dalam rapat kabinetnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebelumnya, melansir pemberitaan dari Reuters, stasiun televisi milik pemerintah Iran menyiarkan kabar bahwa pihak Teheran sudah memegang komitmen penuh untuk memulihkan kelancaran arus lalu lintas kapal komersial yang melewati Hormuz agar bisa kembali ke volume normal seperti sebelum perang, dalam estimasi waktu satu bulan pasca-kesepakatan dengan pihak AS disetujui.

Pihak Iran bahkan sempat melayangkan usulan mengenai metode pengoperasian jalur lalu lintas kapal tersebut secara bersama-sama dengan Oman. Akan tetapi, aparatur Gedung Putih langsung melayangkan bantahan keras mengenai kabar terkait eksistensi nota kesepahaman itu dan menyatakan laporan tersebut sebagai sebuah rekayasa sepenuhnya.

Dinamika di pasar minyak dunia memang sempat diwarnai gejolak yang cukup kuat selama beberapa hari belakangan ini, lantaran posisi AS dan Iran berada di antara persimpangan jalan menuju titik perdamaian atau justru risiko terjadinya perluasan konflik militer.

Angkatan bersenjata AS sendiri dilaporkan sempat melepaskan serangan ke wilayah bagian selatan Iran, sebuah tindakan yang diklaim oleh pihak Pentagon sebagai langkah pertahanan diri. Merespons aksi tersebut, pihak Teheran pun melayangkan ancaman untuk melancarkan serangan balasan.

Kendati demikian, sejumlah pengamat di sektor industri merasa sangsi bahwa pasokan minyak global akan dapat mengalir kembali ke kapasitas semula sebelum perang dalam waktu dekat. Walaupun celah untuk berdiplomasi kini terbuka, para pelaku usaha menilai proses pemulihan suplai minyak ke pasar tidak dapat terjadi secara instan.

Pimpinan dari Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC), Sultan Ahmed al-Jaber, sebelumnya sempat memproyeksikan bahwa arus distribusi minyak global memerlukan waktu paling sedikit sekitar empat bulan hanya untuk mengembalikan kapasitas pasokan hingga menyentuh level 80% dari volume normal, andaikata perselisihan bersenjata tersebut berakhir pada hari ini.

Menurut pandangannya, pemulihan volume secara total kemungkinan besar baru bisa terealisasi pada periode kuartal I atau kuartal II di tahun 2027 mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index