Harga Bitcoin Turun ke US Dolar 77.058 Saat Pasar Kripto Melemah

Harga Bitcoin Turun ke US Dolar 77.058 Saat Pasar Kripto Melemah
Ilustrasi BTC Turun (Gambar: NET)

JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam bersamaan dengan melemahnya mayoritas aset kripto lainnya pada perdagangan Selasa (19/5/2026) pagi. Tekanan terhadap pasar digital ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak dunia, dan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Dikutip dari Investor Daily, kapitalisasi pasar kripto global menyusut 1,17% menjadi US$ 2,56 triliun berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.20 WIB. Nilai Bitcoin hari ini anjlok 1,11% ke posisi US$ 77.058 per koin atau setara dengan Rp 1,36 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.699.

Koreksi juga terlihat pada Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar yang terpangkas sebesar 1,94%. Ethereum jatuh 1,94% menuju level US$ 2,135, sedangkan Binance (BNB) mengalami penurunan sebesar 1,39% ke angka US$ 644.

Aset digital lainnya seperti Solana (SOL) melemah 0,87% ke US$ 85, dan XRP terkoreksi 1,39% menjadi US$ 1,39. Penurunan terdalam dialami oleh Dogecoin (DOGE) yang ambrol hingga 4,53% ke posisi US$ 0,1.

Dilansir dari CoinTelegraph, indeks saham Wall Street juga kembali tertekan pada perdagangan Senin (18/5/2026) waktu setempat. Minimnya perkembangan positif terkait konflik di Timur Tengah turut memperparah sentimen negatif yang menghantam pasar ekuitas dan aset digital secara bersamaan.

Indeks Nasdaq sempat mengalami kemerosotan hingga 1,3% sebelum akhirnya memangkas pelemahan menjadi 0,8%. Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan tindakan militer terhadap Iran.

Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Donald Trump menyatakan bahwa dirinya diminta oleh Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan untuk menunda serangan.

Meski ada penundaan, investor tetap khawatir terhadap valuasi saham yang sudah tinggi di tengah lonjakan suku bunga dan harga energi. Sektor saham yang berkaitan dengan kripto menjadi salah satu yang paling terdampak, seperti Strategy (MSTR) yang anjlok 7,9%, Coinbase turun 5,1%, dan Circle melemah 4,2%.

Firma perdagangan aset digital Wintermute menilai situasi ini lebih dipengaruhi oleh perubahan kondisi makroekonomi global. Penurunan harga dinilai bukan karena kerusakan fundamental jangka panjang pada pasar kripto itu sendiri.

Menurut analisis Wintermute, penguatan Bitcoin yang terjadi sebelumnya lebih banyak didorong oleh aksi short covering ketimbang masuknya aliran investasi baru. Adanya inflasi yang tinggi serta pergeseran ekspektasi suku bunga kini menjadi beban bagi aset berisiko.

Pelaku pasar saat ini mulai mengantisipasi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed, berbalik dari perkiraan pemangkasan pada bulan lalu. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 40% hingga akhir tahun, dan peluang kenaikan 50 basis poin berada di angka 9%.

Tekanan di pasar keuangan juga tecermin dari yield Treasury AS tenor 30 tahun yang merangkak naik ke level 5,14%. Angka tersebut merupakan level tertinggi yang pernah tercatat sejak Juli 2007.

Kendati menghadapi tekanan berat dalam jangka pendek, Wintermute memandang prospek jangka panjang untuk industri kripto masih tetap positif. Indikatornya terlihat dari cadangan Bitcoin di bursa yang masih bertahan di dekat level terendah multi-tahun karena investor jangka panjang terus melakukan akumulasi.

Sentimen positif jangka panjang ini juga didukung oleh langkah strategis Michael Saylor melalui Strategy. Perusahaan tersebut baru saja mengumumkan pembelian Bitcoin senilai US$ 2 miliar, yang menjadi salah satu aksi akumulasi mingguan terbesar mereka sepanjang tahun ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index