Analisis Teknikal: Harga Batu Bara Berpotensi Menguat ke USD140

Analisis Teknikal: Harga Batu Bara Berpotensi Menguat ke USD140
Ilustrasi Pertambangan Batu Bara (FOTO: investingnews.com)

JAKARTA – Harga komoditas batu bara mencatatkan penurunan pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin.

Dalam rentang waktu sepekan, pergerakan harga komoditas ini juga terlihat kurang bergairah sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada Jumat (8/5/2026), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan depan ditutup pada level US$ 131,75/ton.

Angka tersebut memperlihatkan adanya penurunan sebesar 0,34 persen jika dibandingkan dengan hari sebelumnya, sekaligus menjadi level terendah sejak 28 April atau dalam kurun sepekan terakhir.

Secara akumulatif, harga batu bara mengalami koreksi sebesar 1,61 persen sepanjang transaksi pada minggu lalu sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Melemahnya harga batu bara dipicu oleh proses transisi energi dampak dari konflik di Timur Tengah yang ternyata tidak berlangsung seagresif perkiraan awal, terutama di kawasan Asia.

Sebelumnya, muncul asumsi bahwa blokade akses Selat Hormuz akibat peperangan akan menjadikan batu bara sebagai pilihan utama lantaran terganggunya distribusi gas alam cair (LNG) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Volume impor batu bara Jepang pada bulan April tercatat hanya sebesar 7,89 juta ton, atau merosot tajam 13,3 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Di waktu yang sama, impor batu bara Korea Selatan pada bulan lalu mencapai 5,7 juta ton, menyusut 1,89 persen dibandingkan posisi pada bulan Maret sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menyoal prediksi pergerakan harga batu bara untuk minggu ini, jika dilihat secara teknikal dalam perspektif mingguan (weekly time frame), posisi batu bara sebenarnya masih tergolong cukup aman di zona bullish.

Hal tersebut dibuktikan melalui indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang berada di angka 66. Perlu dipahami bahwa RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang berada dalam posisi bullish sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selanjutnya, indikator Stochastic RSI 14 hari menunjukkan angka sembilan. Posisi yang berada jauh di bawah angka 20 ini memberikan indikasi bahwa kondisi pasar sudah berada dalam fase sangat jenuh jual (oversold).

Untuk transaksi pada minggu ini, harga batu bara memiliki peluang untuk mengalami penguatan. Target resisten terdekat diproyeksikan berada pada rentang US$ 133-134/ton sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Apabila level dimaksud berhasil dilewati, maka rentang US$ 135-137/ton dapat menjadi sasaran berikutnya. Adapun target yang paling optimistis atau resisten terjauh dipatok pada angka US$ 140/ton.

Namun, apabila harga batu bara justru kembali mengalami pelemahan, maka level US$ 132/ton diperkirakan akan menjadi titik poros (pivot point) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Jika menembus titik poros tersebut, terdapat potensi harga akan menguji level support di kisaran US$ 131-130/ton. Target yang paling pesimistis atau support terjauh berada pada level US$ 128/ton sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index