JAKARTA – Mata uang rupiah kembali mencatatkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, setelah sebelumnya sempat menunjukkan penguatan selama dua hari berturut-turut.
Faktor utama yang memberikan tekanan terhadap rupiah adalah dinamika geopolitik global serta adanya penurunan pada cadangan devisa Indonesia sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot menutup perdagangan pada angka Rp 17.382 per dolar AS pada Jumat (8/5/2026). Posisi tersebut memperlihatkan pelemahan sebesar 0,29% jika dibandingkan dengan hari sebelumnya yang berada pada level Rp 17.333 per dolar AS.
Secara akumulasi mingguan, nilai tukar rupiah tercatat mengalami koreksi sebesar 0,27% sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memaparkan bahwa melandainya nilai tukar rupiah dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran para pelaku pasar terhadap situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah sebagaimana dilansir dari berita sumber.
“Rupiah melemah terhadap dolar AS oleh kekhawatiran terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah setelah terjadi insiden baku tembak antara kapal AS dan Iran,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (8/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain faktor eksternal, data cadangan devisa Indonesia yang menyusut turut memberikan beban bagi posisi rupiah.
Posisi cadangan devisa pada periode April 2026 dilaporkan sebesar US$ 146,2 miliar, angka ini tercatat menurun dari posisi akhir Maret 2026 yang sempat menyentuh US$ 148,2 miliar sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut Lukman, sepanjang pekan lalu rupiah memang berada dalam tekanan akibat lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh memanasnya ketegangan di Timur Tengah.
Padahal, beberapa indikator domestik sebenarnya berada pada kondisi positif, seperti pertumbuhan ekonomi nasional yang berhasil melampaui ekspektasi pasar serta kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam membatasi pembelian dolar AS.
Walaupun demikian, sentimen domestik tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menopang posisi rupiah sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menjelang pembukaan perdagangan awal pekan ini, para investor akan terus memantau perkembangan negosiasi antara pihak AS dan Iran, serta menunggu respons Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan AS.
Di samping itu, pasar juga tengah mengantisipasi rilis data non-farm payrolls (NFP) Amerika Serikat yang menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Untuk sentimen dari dalam negeri, perhatian akan tertuju pada publikasi data indeks keyakinan konsumen Indonesia pada Senin (11/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Lukman memberikan prediksi bahwa pergerakan rupiah pada hari Senin (11/5) akan berfluktuasi dalam rentang Rp 17.300 sampai dengan Rp 17.450 per dolar AS sebagaimana dilansir dari berita sumber.