Kinerja TBIG Turun Tipis 0,79 Persen Akibat Konsolidasi Operator

Kinerja TBIG Turun Tipis 0,79 Persen Akibat Konsolidasi Operator
Ilustrasi tower telekomunikasi TBIG (FOTO: emitennews.com)

JAKARTA – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melaporkan adanya penurunan pada kinerja keuangan mereka untuk periode kuartal pertama tahun 2026.

Kondisi ini terjadi sebagai dampak dari konsolidasi operator telekomunikasi yang menyebabkan pendapatan tertekan sehingga memengaruhi laba bersih yang diraih perusahaan.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, pendapatan yang dikantongi TBIG berjumlah Rp 1,71 triliun. Angka ini mengalami penurunan tipis sebesar 0,79% secara tahunan atau Year-on-Year (YoY) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,73 triliun.

Dari sisi laba bersih, pada kuartal I-2026 TBIG mencatatkan angka sebesar Rp 405,61 miliar. Perolehan ini mengalami penyusutan sebanyak 5,61% YoY dari raihan kuartal I-2026 yang sebelumnya menyentuh Rp 429,23 miliar.

Melihat pada sisi operasional, hingga akhir Maret 2026, perusahaan memiliki 41.764 penyewaan dengan total 24.666 situs telekomunikasi. Infrastruktur tersebut terdiri atas 24.558 menara telekomunikasi serta 108 jaringan DAS.

Sepanjang tiga bulan pertama di tahun 2026, jumlah penyewa menara mencapai 41.656 tenant, sehingga rasio kolokasi atau tenancy ratio berada di angka 1,70 kali.

Wakil Presiden Direktur & CEO Tower Bersama Infrastructure, Hardi Wijaya Liong, menerangkan bahwa perusahaan mengalami kenaikan pesanan yang cukup berarti pada kuartal pertama 2026.

“Yakni, dengan penambahan 808 penyewaan bruto ke dalam portofolio kami, yang terdiri dari 599 sites telekomunikasi baru dan 209 kolokasi,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hardi Wijaya Liong juga menambahkan bahwa walaupun penambahan penyewaan bersih terkena dampak akibat penghentian kontrak dari XLSmart yang baru bergabung, namun tingkat permintaan dasar masih menunjukkan tren positif.

Di sisi lain, Bob Setiadi dan Rut Yesika Simak selaku Research Analyst CGS International Sekuritas melakukan pembaruan terhadap estimasi kinerja TBIG hingga akhir tahun 2026 dengan merujuk pada data operasional terkini.

Mereka menurunkan asumsi terkait jumlah menara dan penyewa untuk periode 2026 hingga 2027 sebesar 3,8%–3,9% karena proses rasionalisasi jaringan yang berlangsung lebih cepat setelah adanya konsolidasi XL–SmartFren.

“Konsolidasi operator telekomunikasi diprediksi masih akan berlanjut dalam dua tahun ke depan sebelum mulai normal kembali pada 2028. Untuk 2026–2027, kami memproyeksikan pertumbuhan pendapatan TBIG sebesar 1,3%–1,9% YoY,” paparnya dalam riset sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Secara umum, Bob dan Rut memproyeksikan laba bersih perusahaan pada tahun buku 2026 dan 2027 akan mengalami pertumbuhan bertahap di angka 3%–5% tiap tahunnya menjadi Rp 1,5 triliun–Rp 1,58 triliun. Proyeksi ini lebih rendah 5%–8% dari estimasi mereka sebelumnya.

Atas dasar pertimbangan tersebut, target harga saham TBIG turut dipangkas dari Rp 2.025 per saham ke posisi Rp 1.925. Meski demikian, mereka tetap memberikan rekomendasi hold untuk saham ini.

“TBIG masih mampu menghasilkan arus kas bebas yang solid sebesar Rp 3,2 triliun–Rp 3,5 triliun per tahun pada 2026–2026, meskipun valuasinya sebesar 12,2 kali EV/EBITDA 2026 masih lebih tinggi dibandingkan para pesaingnya,” tulis Bob dan Rut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index