JAKARTA – Kinerja emiten properti beda arah di kuartal I 2026, simak rekomendasi saham berbasis data kinerja dan target harga analis.
Kinerja emiten properti pada kuartal I 2026 menunjukkan perbedaan signifikan dengan variasi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih antar perusahaan. Sejumlah emiten mencatat pertumbuhan positif, sementara lainnya justru mengalami penurunan kinerja secara tahunan.
PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) menjadi salah satu emiten yang mencatatkan kinerja solid dengan pendapatan mencapai Rp 1,64 triliun atau tumbuh 5,83% secara tahunan. Laba bersih PWON juga meningkat 29,31% menjadi Rp 389,99 miliar pada periode yang sama.
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) mencatat pertumbuhan paling agresif di antara emiten properti lainnya. Pendapatan PANI mencapai Rp 1,1 triliun atau melonjak 82% secara tahunan dengan laba bersih sebesar Rp 578 miliar atau meningkat lebih dari 10 kali lipat.
Di sisi lain, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) masih mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 6,14% menjadi Rp 2,23 triliun. Namun laba bersih SMRA justru turun 20,34% secara tahunan, mencerminkan adanya tekanan pada sisi profitabilitas.
PT Ciputra Development Tbk (CTRA) juga mengalami penurunan kinerja pada kuartal I 2026. Pendapatan CTRA tercatat turun 6,37% secara tahunan, sementara laba bersihnya melemah 21,51%.
Perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa sektor properti belum bergerak secara seragam meskipun berada dalam fase pemulihan. Faktor seperti strategi bisnis, diversifikasi pendapatan, serta kekuatan proyek menjadi pembeda utama antar emiten.
Analis pun memberikan sejumlah rekomendasi saham berdasarkan data kinerja tersebut. Saham PWON direkomendasikan dengan target harga sekitar Rp 520 per saham.
Selanjutnya, saham SMRA direkomendasikan dengan target harga sekitar Rp 750 per saham. Sementara saham CTRA memiliki target harga di kisaran Rp 1.200 per saham.
Selain itu, saham PANI juga masuk dalam radar rekomendasi dengan target harga sekitar Rp 10.000 per saham. Rekomendasi ini didasarkan pada pertumbuhan kinerja yang signifikan serta prospek bisnis ke depan.
Analis menekankan bahwa strategi investasi di sektor properti saat ini lebih mengarah pada pemilihan saham secara selektif. Emiten dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih, dan proyek yang kuat dinilai lebih menarik untuk dikoleksi.
Investor disarankan untuk mencermati data keuangan seperti pertumbuhan pendapatan dan laba bersih sebelum mengambil keputusan. Pendekatan berbasis data menjadi penting di tengah kondisi sektor yang masih menunjukkan perbedaan arah kinerja.
Dengan kinerja emiten properti yang beda arah ini, peluang tetap terbuka bagi investor yang jeli membaca data. Saham dengan fundamental kuat dan pertumbuhan tinggi berpotensi memberikan imbal hasil optimal di tengah dinamika pasar.