Update Harga CPO Selasa 28 April 2026: Kontrak Juli Turun Tipis ke 4.529 Ringgit

Update Harga CPO Selasa 28 April 2026: Kontrak Juli Turun Tipis ke 4.529 Ringgit
Ilustrasi CPO Malaysia (https://images.bisnis.com/thumb/posts/2025/08/06/1899744/sawit_1747268153.jpg?w=1440&h=740&auto=format&compress=high)

JAKARTA – Harga CPO bergerak sempit pada Selasa (28/4) akibat pelemahan minyak nabati di Dalian meski minyak mentah menguat. Cek rincian harga dan sentimen pasar di sini.

Dinamika pasar minyak sawit mentah global menunjukkan pergerakan yang cenderung terbatas pada pembukaan perdagangan Selasa pagi ini. Kondisi tersebut dipicu oleh adanya tarik-menarik antara kenaikan harga energi dunia dengan koreksi harga minyak nabati di pasar Tiongkok.

Kontrak acuan harga CPO untuk pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat turun tipis 5 ringgit atau 0,11% ke posisi 4.529 ringgit per ton. Penurunan ini menyambung tren pelemahan pada sesi perdagangan sebelumnya yang sempat terkoreksi sebesar 1,37%.

Tekanan utama berasal dari bursa Dalian Commodity Exchange di mana harga minyak kedelai dan minyak sawit masing-masing turun 0,12% dan 0,65%. Namun, penguatan harga soyoil di Chicago Board of Trade sebesar 0,27% memberikan sokongan bagi komoditas sawit agar tidak merosot lebih dalam.

Secara fundamental, pergerakan harga CPO memang senantiasa membuntuti tren harga minyak nabati pesaingnya demi memperebutkan pangsa pasar global. Hal ini terjadi karena berbagai jenis minyak nabati tersebut saling bersaing sebagai substitusi dalam industri pangan dan manufaktur.

Pada sektor energi, harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik akibat kebuntuan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih memanas. Terbatasnya akses di jalur krusial Selat Hormuz juga turut mendongkrak daya tarik sawit sebagai bahan baku pembuatan biodiesel.

Meskipun demikian, penguatan mata uang ringgit Malaysia sebesar 0,08% terhadap dolar AS menjadi faktor penghambat kenaikan harga di pasar internasional. Penguatan mata uang lokal ini secara otomatis membuat harga beli komoditas sawit menjadi lebih mahal bagi para importir luar negeri.

Melihat sisi pasokan, perusahaan Agrinas Palma Nusantara memprediksi adanya lonjakan produksi CPO pada tahun 2026 hingga mencapai sekitar 2 juta ton. Estimasi terbaru ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dari proyeksi awal perusahaan yang hanya sebesar 1,07 juta ton.

Sentimen negatif tambahan muncul dari data surveyor kargo yang melaporkan penurunan ekspor produk sawit Malaysia periode 1-25 April. Volume pengiriman tercatat anjlok antara 15,7% hingga 16,8% jika dibandingkan dengan capaian ekspor pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan analisis teknikal dari analis Reuters Wang Tao, harga CPO diperkirakan memiliki peluang untuk melakukan rebound terbatas ke level 4.584 ringgit. Namun, pelaku pasar diminta tetap waspada terhadap potensi pengujian kembali titik support di kisaran 4.517 ringgit per ton.

Situasi pasar yang cukup fluktuatif ini menuntut kehati-hatian ekstra bagi para pelaku usaha dalam menentukan posisi perdagangan mereka. Pengaruh geopolitik dan data produksi fisik akan terus menjadi kunci utama pergerakan harga CPO di masa mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index