JAKARTA – Arus modal keluar dari pasar saham domestik kian deras saat net sell asing menjadi-jadi, menyasar deretan saham perbankan berkapitalisasi besar.
Aksi lepas saham oleh investor global memberikan tekanan hebat bagi keberlanjutan tren penguatan indeks harga saham gabungan. Meskipun sempat bertahan, indeks akhirnya terpaksa tunduk pada dominasi pesanan jual yang masuk secara beruntun di lantai bursa.
Nilai pelepasan aset oleh pemodal luar negeri tercatat melampaui angka akumulasi beli pada perdagangan sesi terakhir.
"Investor asing mencatat aksi jual bersih atau net sell yang cukup besar yakni mencapai Rp 850,2 miliar di seluruh pasar," tulis laporan pasar sebagaimana dilansir dari investor.id, Selasa (28/4/2026).
Sektor keuangan yang biasanya menjadi tumpuan justru menjadi titik terlemah akibat gelombang distribusi modal tersebut. Para pengelola dana global tampak sedang melakukan penyeimbangan ulang portofolio mereka di tengah ketidakpastian ekonomi makro.
Laporan harian bursa mengonfirmasi bahwa saham bank dengan valuasi raksasa mengalami tekanan jual yang paling signifikan.
"Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran utama aksi jual dengan nilai net sell mencapai Rp 412,8 miliar," tulis tim redaksi melalui investor.id, Selasa (28/4/2026).
Penurunan harga pada saham-saham inti ini berdampak langsung pada bobot indeks secara keseluruhan. Selain emiten bank swasta terbesar, beberapa nama besar di sektor perbankan milik negara juga tidak luput dari aksi serupa.
"Posisi selanjutnya yang paling banyak dilepas asing adalah saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan nilai jual bersih Rp 215,6 miliar," sebagaimana dikutip dari investor.id, Selasa (28/4/2026).
Sentimen negatif ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap ketatnya likuiditas global yang membuat aset berisiko di pasar berkembang menjadi kurang menarik. Sebagian besar investor memilih untuk mengamankan keuntungan terlebih dahulu sambil memantau pergerakan nilai tukar.
Total frekuensi transaksi pada hari ini melibatkan perpindahan tangan jutaan lot saham dengan nilai perputaran uang yang sangat masif.
Para analis memperkirakan tekanan jual ini bersifat jangka pendek namun tetap memerlukan kewaspadaan tinggi dari pelaku pasar ritel. Fokus pasar kini beralih pada kemampuan indeks untuk bertahan di atas level dukungan teknikal terdekat guna menghindari kejatuhan lebih lanjut.