Tekanan Sektor Teknologi dan Isu Iran Seret Wall Street ke Zona Merah

Tekanan Sektor Teknologi dan Isu Iran Seret Wall Street ke Zona Merah
Ilustrasi Wall Street (https://www.washingtonpost.com/wp-apps/imrs.php?src=https://arc-anglerfish-washpost-prod-washpost.s3.amazonaws.com/public/43QHHQDPM4I6VIKWABELMLG3KE.jpg&w=691)

JAKARTA – Bursa saham Wall Street terpantau mengalami koreksi tajam seiring meningkatnya ketegangan geopolitik Iran serta tekanan jual yang masif pada saham sektor teknologi.

Kombinasi antara risiko keamanan global dan valuasi saham teknologi yang mulai dinilai terlalu tinggi membuat investor memilih untuk mengamankan aset mereka.

"Koreksi yang terjadi di Wall Street mencerminkan kepanikan sesaat pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan energi akibat eskalasi di wilayah Iran," ujar Analis Strategi Pasar, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Jumat (24/4/2026).

Indeks Nasdaq yang didominasi oleh perusahaan teknologi mengalami penurunan paling dalam dibandingkan dengan indeks Dow Jones maupun S&P 500.

Para pelaku pasar khawatir bahwa kenaikan harga minyak dunia yang dipicu isu geopolitik akan kembali memicu inflasi dan menunda pemangkasan suku bunga bank sentral.

"Sektor teknologi menjadi yang paling terdampak karena sensitivitasnya terhadap ekspektasi suku bunga dan biaya modal yang berpotensi tetap tinggi lebih lama," papar Analis Strategi Pasar, melansir dari indopremier.com, Jumat (24/4/2026).

Saham-saham raksasa penyedia cip dan perangkat lunak tercatat kehilangan nilai pasar yang cukup besar hanya dalam satu sesi perdagangan.

Volume transaksi melonjak drastis yang mengindikasikan adanya perpindahan modal dari aset berisiko menuju instrumen yang lebih aman seperti emas dan obligasi negara.

Ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran dinilai sebagai faktor liar yang sulit diprediksi dampaknya terhadap ekonomi Amerika Serikat secara langsung.

Beberapa emiten transportasi dan manufaktur juga mulai merasakan dampak dari kenaikan biaya bahan bakar yang mulai merangkak naik secara perlahan.

Kondisi pasar yang penuh tekanan ini diprediksi masih akan berlanjut hingga ada pernyataan resmi mengenai langkah diplomasi untuk meredakan ketegangan di kawasan tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index