Kinerja Saham Chevron Melonjak 36,9 Persen Ditopang Konflik Geopolitik

Sabtu, 19 September 2026 | 19:50:31 WIB
Ilustrasi Chevron (FOTO : NET)

JAKARTA – Chevron bukan lagi sekadar saham dividen tua yang aman. Sepanjang 2026, saham ini berubah menjadi salah satu proksi paling murni terhadap risiko geopolitik global.

Sejak perang Iran-Israel meletus dan ancaman blokade Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran minyak tersibuk dunia menjadi nyata, harga minyak Brent melonjak dari sekitar $68 menjadi di atas $100–107 per barel.

Pasar mulai memperdagangkan Chevron kurang seperti perusahaan energi terintegrasi biasa, dan lebih seperti taruhan langsung terhadap status Selat Hormuz.

Hasilnya, saham mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di $218,37 pada pertengahan September 2026, naik 36,9% sepanjang 2026.

Di saat bersamaan, Chevron juga mendapat angin segar dari tiga arah lain: integrasi akuisisi Hess yang jauh melampaui target sinergi, kesepakatan akses istimewa ke cadangan minyak Venezuela lewat dorongan pemerintahan Trump, dan kontrak listrik 20 tahun dengan Microsoft untuk data center AI, menjadikan Chevron bukan cuma cerita minyak, tapi juga cerita energi untuk AI.

Chevron, yang didirikan pada 1879 dan berbasis di Houston, Texas, adalah perusahaan energi terintegrasi raksasa asal Amerika Serikat dengan kapitalisasi pasar sekitar $419 miliar. Bisnisnya mencakup seluruh rantai nilai minyak dan gas: eksplorasi, produksi (upstream), transportasi, pengolahan (downstream), hingga petrokimia dan bahan bakar terbarukan.

Chevron merupakan perusahaan minyak besar AS terbesar kedua setelah ExxonMobil, dan satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang mempertahankan operasi signifikan di Venezuela sejak era nasionalisasi.

Setelah menuntaskan akuisisi Hess Corporation, Chevron kini memiliki portofolio yang lebih terdiversifikasi dengan tambahan aset premium di Guyana, salah satu ladang minyak lepas pantai paling menjanjikan di dunia, serta memperkuat posisi di Permian Basin dan Gulf of America (dahulu Gulf of Mexico).

Produksi worldwide mencapai rekor 4,07 juta barel setara minyak per hari (boepd) pada kuartal II 2026, naik 20% YoY, dengan produksi AS mencapai rekor 2,08 juta barel per hari.

Tags

Terkini