JAKARTA – Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Evita Manthovani pengalihan saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh tak libatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Adapun, porsi saham selama ini dikuasai oleh konsorsium BUMN melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), sementara sebesar 40 persen saham sisanya tetap akan dipegang oleh konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd.
“Tentunya ini sesuai dengan harapan, tidak dengan melibatkan APBN secara langsung dalam pemenuhan kewajiban PT PSBI,” kata Evita sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Proses finalisasi saat ini tengah dilakukan Kemenkeu.
"Pengalihan saham PT PSBI ke pemerintah melalui Kementerian Keuangan saat ini masih dalam proses finalisasi," jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Bebarengan dengan ini, Kemenkeu sekaligus mengevaluasi nilai saham dengan memetakan aspek finansial, bisnis, operasional, dan hukum.
“Saat ini di Kementerian Keuangan sedang berjalan due diligence dan juga evaluasi nilai saham terhadap saham PSBI yang akan dialihkan,” ucap Evita sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selanjutnya, Kemenkeu berkoordinasi dengan BP BUMN dan BPI Danantara untuk menyusun rancangan peraturan presiden (Perpres).
Okupansi turis mancanegara yang menggunakan Whoosh didominasi dari Malaysia.
Berdasarkan data penjualan pada awal September 2026, tercatat sebanyak 2.300 tiket Whoosh dibeli oleh wisatawan Malaysia atau rata-rata mencapai 1.150 tiket per hari.
"Wisatawan Malaysia menjadi pengguna Whoosh dari kalangan warga negara asing dengan jumlah terbesar," kata General Manager Corporate Secretary Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Eva Chairunisa sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Rupanya sepanjang Januari-Agustus 2026, KCIC total melayani 105.095 penumpang WN Malaysia.
Sekitar 40 persen dari total 262.369 penumpang Whoosh warga negara asing (WNA) didominasi dari Malaysia.