Alasan FCIH Lepas Frisian Flag ke Ultrajaya Setelah Seratus Empat Tahun

Alasan FCIH Lepas Frisian Flag ke Ultrajaya Setelah Seratus Empat Tahun
Ilustrasi FrieslandCampina (FOTO : NET)

JAKARTA – FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH), perusahaan susu berskala global asal Belanda, mengungkapkan alasan di balik rencana pelepasan seluruh saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI), lengan bisnis yang telah beroperasi selama 104 tahun di Indonesia.

Seluruh saham FFI akan dilepas kepada PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company (ULTJ), salah satu emiten dari industri makanan olahan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia.

ULTJ yang dikenal sebagai produsen susu Ultra Milk, akan menjadi pemegang saham penuh FFI tanpa menyetor modal dalam bentuk tunai. Sebagai gantinya, emiten milik Sabana Prawiradjaja ini akan menggelar rights issue untuk membawa masuk pemegang saham FFI sebagai investor strategis.

Pemegang mayoritas saham FFI saat ini yaitu FCIH, dengan kepemilikan 78,09%. Sisanya sebanyak 16,91% dimiliki oleh Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd., serta 5% dimiliki oleh PT Bahtera Wiraniaga Internusa.

Setelah rights issue tersebut, FCIH akan masuk menjadi pemegang setidaknya 28,95% saham di ULTJ. Namun jika pemegang saham eksisting ULTJ tak mengambil bagian dalam rights issue ini, FCIH akan mengendalikan hingga 30,81% saham.

Manajemen FCIH dalam pernyataan yang disampaikan pada Jumat (18/9), pelepasan FFI kepada ULTJ adalah bagian dari ekspansi bisnis ke jaringan yang lebih besar di Indonesia dan kawasan Asia.

“Langkah ini mendukung misi FrieslandCampina untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak dan keluarga di Asia, dengan memperluas akses terhadap manfaat nutrisi produk susu secara bertanggung jawab,” jelas Manajemen FCIH sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Manajemen FCIH menambahkan bisnis FFI, yang lebih akrab dikenal lewat merek Susu Bendera, akan tetap berjalan sebagai bisnis terpisah dengan portofolio produk ULJT.

“Masing-masing dengan merek, portofolio, dan organisasi sendiri, dengan kerja sama yang diperkuat dan berfokus pada penciptaan nilai jangka panjang,” imbuh Manajemen FCIH sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saat ini ULTJ di luar bisnis susu Ultra Milk, telah memiliki beragam produk minuman non-susu. Beberapa di antaranya termasuk Teh Kotak, Sari Asem Asli, Sari Kacang Ijo, dan Keju yang dikembangkan bersama Kraft Heinz.

Sementara itu FFI lebih dominan dengan produk berbasis susu, dalam bentuk kental manis kemasan dan susu cair siap minum. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan juga mengembangkan produk susu nutrisi untuk balita dan ibu-ibu hingga keju dalam kemasan.

Dari sisi pangsa pasar, ULTJ menguasai 37,3% pangsa produk susu di Indonesia menurut data Nielsen yang disampaikan akhir 2025 lalu. Sementara pangsa pasar untuk produk teh dan minuman sehat mencapai 53,9%.

Sedangkan pangsa pasar untuk produk susu FFI diperkirakan mencapai 21,72% menurut riset yang disampaikan Marketac pada awal 2026. Beberapa merek andalan FFI termasuk Frisian Flag, Omela, dan Primagro.

FCIH telah mendapat persetujuan dari Members’ Council FrieslandCampina, pemegang saham mayoritasnya, terkait rencana pelepasan Frisian Flag sebagai bagian dari investasi di ULTJ. Namun transaksi ini tengah menunggu keputusan rapat pemegang saham ULTJ, yang akan digelar pada 27 Oktober 2026 mendatang.

“FFI akan berkontribusi pada penguatan Ultrajaya dengan menggabungkan kepemimpinan lokal yang kuat, dengan pendekatan kemitraan jangka panjang serta keahlian FrieslandCampina dalam pengembangan produk susu,” jelas Manajemen FCIH sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meskipun demikian, FCIH memastikan kerja sama strategis ini akan tetap memberi ruang bagi Sabana Prawirawidjaja sebagai direktur utama sekaligus pemegang saham jangka panjang bagi ULJT.

Sementara Manajemen ULTJ memperkirakan pendapatan pada tahun-tahun berikutnya, diproyeksi meningkat sekitar 137% per tahun didukung bisnis FFI. Sementara laba bersih perseroan juga diperkirakan meningkat hingga 115,4% per tahun.

Kabar mengenai kerja sama strategis antara FCIH dan ULTJ ini pernah ramai dibicarakan pada awal Oktober 2025, hingga mendorong harga saham ULTJ naik hampir 25% dalam sebulan. Namun rumor tersebut menemui titik terang, setelah Manajemen ULTJ menyampaikan rencana transaksi secara resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (18/9).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index