Harga Emas Dunia Berpeluang Rebound Meski Dibayangi Tekanan Yield

Rabu, 16 September 2026 | 22:34:13 WIB
Ilustrasi prediksi XAU USD (FOTO : NET)

JAKARTA – Pergerakan harga emas dunia atau XAU/USD memiliki peluang untuk mengalami penguatan pada perdagangan Rabu, 16 September 2026. Dari sisi teknikal, indikasi rebound terlihat usai terjadi penolakan atau rejection pada area support krusial.

Merujuk pada analisis dari Dupoin Futures, pergerakan XAU/USD pada grafik harian menunjukkan adanya penolakan di kisaran USD4.277. Kondisi ini memperlihatkan bahwa gelombang tekanan jual mulai berkurang, sehingga memberi ruang bagi emas untuk bergerak naik.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menyampaikan bahwa rejection pada level USD4.277 disusul dengan pembentukan Swing Low yang valid. Di samping itu, terkonfirmasi pula pola Bullish Engulfing yang mengindikasikan semakin besarnya momentum daya beli. Perpaduan indikator teknikal tersebut mendasari pandangan Dupoin Futures terkait potensi kenaikan XAU/USD menuju area resistance terdekat.

Pihak Dupoin Futures memetakan zona USD4.351 hingga USD4.363 sebagai batas resistance yang krusial dipantau pada sesi perdagangan hari ini. Jika dorongan bullish mampu dipertahankan, harga emas berpeluang besar untuk menguji area tersebut. Laju pergerakan XAU/USD mengarah ke resistance USD4.351-USD4.363 bakal menjadi fase penting untuk mengukur kesinambungan penguatan atau hadirnya kembali tekanan jual.

"Level USD4.277 masih menjadi area support penting. Bertahannya harga di atas level tersebut akan menjadi salah satu faktor yang mendukung skenario rebound secara teknikal," jelas Geraldo dalam analisis hariannya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati terdapat prospek pemulihan secara teknikal, Dupoin Futures menggarisbawahi bahwa kondisi fundamental emas masih dibayangi oleh berbagai tekanan. Arah pergerakan XAU/USD secara umum masih cenderung bearish seiring meningkatnya imbal hasil Treasury AS yang berada di kisaran lima persen.

Lonjakan imbal hasil tersebut menjadikan aset berbasis dolar AS tampak lebih menjanjikan, sekaligus memperbesar biaya peluang untuk mengaitkan dana pada emas yang tidak memberikan bunga.

Selain itu, tren penguatan dolar AS turut menjadi penghambat ruang kenaikan harga emas. Saat nilai USD melesat, aset emas yang ditransaksikan dalam bentuk mata uang dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi para investor pemegang mata uang lainnya.

"Karena itu, pergerakan indeks dolar AS dan Treasury yield menjadi dua faktor penting yang perlu dicermati investor dalam membaca arah XAU/USD," pasar Geraldo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tingginya harga minyak dunia saat ini juga terus memicu kecemasan terhadap eskalasi inflasi. Lonjakan biaya energi berisiko menambah beban inflasi dan dapat memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.

Harapan akan suku bunga yang lebih tinggi atau skenario penahanan suku bunga acuan di level tinggi dalam durasi yang lebih lama berisiko memberikan dorongan beban baru bagi harga emas.

Sebaliknya, eskalasi sentimen geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah masih mampu menyokong pergerakan emas. Ketegangan geopolitik pada umumnya memicu peningkatan permintaan terhadap instrumen safe haven saat tingkat ketidakpastian pasar mengalami kenaikan.

"Sentimen tersebut berpotensi menahan tekanan terhadap emas yang berasal dari penguatan dolar AS dan kenaikan Treasury yield," urai dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini