Saham Volkswagen Melonjak 5,8 Persen Usai Rencana PHK 50.000 Pekerja

Sabtu, 05 September 2026 | 19:00:19 WIB
Ilustrasi Saham Volkswagen (FOTO : NET)

JAKARTA – Saham Volkswagen melonjak pada Jumat (4/9/2026) setelah perusahaan mengumumkan rencana PHK sekitar 50.000 tenaga kerja sebagai bagian dari rencana transformasi di tengah meningkatnya tekanan tarif dan persaingan dari China.

Produsen mobil asal Eropa itu sebelumnya mengatakan dewan pengawas telah menyetujui Future Plan 2030.

Rencana tersebut mencakup 12 inisiatif yang akan menjadi program transformasi paling mendalam secara strategis dalam 89 tahun sejarah Volkswagen Group.

Rencana tersebut juga mencakup PHK sekitar 50.000 posisi, termasuk jabatan manajemen.

Volkswagen menyebut persaingan global, perubahan permintaan, serta pergeseran teknologi sebagai sejumlah faktor yang mendorong keputusan tersebut.

Perusahaan juga akan menyederhanakan struktur kepemimpinannya dengan hierarki yang lebih datar.

PHK tersebut menambah 50.000 pengurangan tenaga kerja yang sebelumnya telah disetujui.

Dengan demikian, total pengurangan tenaga kerja Volkswagen mencapai 100.000 posisi.

Saham Volkswagen menjadi saham dengan kinerja terbaik di indeks Stoxx 600 pada Jumat.

Harganya naik 5,8 persen tak lama setelah perdagangan dibuka.

Meski demikian, saham Volkswagen masih turun 21 persen sejak awal tahun.

Selain memangkas tenaga kerja, Volkswagen berencana menyederhanakan portofolio model kendaraannya hingga 50 persen pada 2035.

Perusahaan juga akan memiliki jajaran produk yang lebih sedikit serta mempertimbangkan penggunaan alternatif untuk empat pabriknya di Jerman yang belum memiliki kepastian produksi untuk periode 2031 hingga 2034.

“Kami bertanggung jawab atas seluruh tenaga kerja kami, para mitra kami, serta lapangan kerja industri di seluruh dunia,” kata CEO Volkswagen Oliver Blume sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Dalam beberapa tahun ke depan, kami akan menginvestasikan dana dalam jumlah ratusan miliar untuk membuat merek-merek ikonik kami semakin menarik, kuat, dan kompetitif,” lanjutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebelumnya, Volkswagen menghadapi penurunan laba selama setahun terakhir.

Tekanan tarif menjadi salah satu faktor yang membebani kinerja keuangan perusahaan.

Volkswagen mencatatkan beban tarif sebesar 2,9 miliar euro atau sekitar 3,4 miliar dollar AS sepanjang 2025.

Dua tahun lalu, Volkswagen membayar tarif sebesar 2,5 persen untuk kendaraan yang berasal dari Eropa.

Namun, tarif tersebut kini telah meningkat menjadi 15 persen.

“Mobil kami menjadi semakin mahal dan karena itu semakin sulit dijual, bukan karena kualitasnya memburuk, tetapi karena aturan mainnya telah berubah,” ujar Blume sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, Volkswagen juga menghadapi persaingan ketat dari produsen mobil China.

Perusahaan seperti BYD dan Geely semakin memperkuat posisinya di pasar kendaraan listrik dan mulai menantang posisi Volkswagen yang selama ini telah mengakar kuat.

Analis Carmignac, Kevin Thozet, mengatakan rencana restrukturisasi Volkswagen mencerminkan tekanan yang lebih luas yang sedang dihadapi industri otomotif Eropa, termasuk kelebihan kapasitas produksi China dan masuknya kendaraan impor dengan harga jauh lebih murah.

“Eropa dengan demikian tidak hanya mengimpor mobil China, tetapi juga deflasi harga dari China,” kata Thozet pada Jumat sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut dia, Eropa juga memiliki persoalan kelebihan kapasitas produksi.

Volkswagen menjadi salah satu perusahaan yang paling terdampak karena sejumlah pabriknya di Jerman dibangun untuk memproduksi sedan listrik generasi pertama, sementara permintaan terhadap model tersebut kini melemah.

“China memiliki terlalu banyak mobil. Eropa memiliki terlalu banyak pabrik. Dan kedua persoalan tersebut kini bertabrakan,” ujar Thozet sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Analis sebelumnya memperkirakan saham Volkswagen akan menguat setelah pengumuman tersebut.

Deutsche Bank menyebut keputusan itu sebagai kejutan besar, sekaligus menunjukkan bahwa Volkswagen mampu mengambil keputusan sulit untuk memperbaiki kondisi perusahaan.

“Persetujuan terhadap Zukunftsplan 2030 Volkswagen merupakan terobosan mendasar dan hasil yang jauh lebih baik dari yang dikhawatirkan,” kata analis Deutsche Bank sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mereka mengatakan hampir seluruh investor yang mereka ajak berbicara dalam beberapa hari terakhir masih memandang Volkswagen sebagai perusahaan yang tidak bisa diperbaiki.

Keraguan terhadap kemungkinan tercapainya kesepakasan restrukturisasi komprehensif juga masih sangat tinggi.

Meski transformasi tersebut tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan Volkswagen dalam waktu singkat, analis menilai langkah tersebut merupakan arah yang tepat dan menandai fase baru bagi perusahaan.

Keputusan Volkswagen juga dinilai dapat memberikan dampak lebih luas terhadap industri otomotif Jerman.

Produsen otomotif lain berpotensi mengambil langkah serupa untuk menghadapi pertumbuhan yang melambat, kelebihan kapasitas produksi, persaingan internasional, serta tekanan terhadap tingkat pengembalian investasi.

“Kesepakatan restrukturisasi pada Desember 2024 bisa dibilang telah mendorong produsen lain untuk mengambil langkah penyesuaian yang sama-sama sulit tetapi diperlukan. Keputusan hari ini dapat menciptakan efek serupa,” tegas dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tags

Terkini