Defisit Perdagangan Membesar, Yen Jepang Tertekan di Pasar Global

Jumat, 21 Agustus 2026 | 04:31:29 WIB
Ilustrasi yen jepang (FOTO : NET)

JAKARTA – Yen Jepang diperdagangkan lebih rendah terhadap mata uang sejenisnya akibat tekanan harga energi tinggi pada cadangan devisa.

Defisit perdagangan Jepang melonjak menjadi JPY 634,5 miliar pada bulan Juli dari posisi sebelumnya JPY 409,9 miliar.

Penurunan imbal hasil obligasi AS turut memberikan tekanan pada nilai Dolar AS.

Yen Jepang (JPY) terkoreksi terhadap sejumlah mata uang utama pada hari Kamis, di mana USD/JPY diperdagangkan naik 0,22% di kisaran 158,50 pada sesi perdagangan Eropa. Pelemahan mata uang Jepang ini dipicu oleh pembengkakan defisit perdagangan akibat lonjakan harga energi.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan Jepang (MoF) merilis data yang memperlihatkan defisit perdagangan membengkak ke angka JPY 634,5 miliar dari JPY 409,9 miliar. Pelaku pasar memperkirakan defisit fiskal bakal kian melebar hingga menyentuh JPY 680 miliar.

Data perdagangan internasional mencatatkan impor melambung 27,8% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi JPY 12,15 triliun yang disesuaikan secara musiman. Laju ekspor Jepang pun mencatatkan pertumbuhan solid sebesar 23,2%, melampaui proyeksi awal yakni 19,9%.

Ditinjau dari kebijakan moneter, pasar keuangan meyakini Bank of Japan (BoJ) bakal mendongkrak suku bunga pada pertemuan September mendatang.

Analis Standard Chartered telah menggeser ekspektasi mereka terhadap pengetatan kebijakan Bank of Japan (BoJ) dan kini memprakirakan BoJ “akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bp pada 18 September, dari sebelumnya Oktober.” sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pihaknya juga mengubah arah kebijakan selanjutnya dengan menegaskan bahwa mereka “kini memprakirakan dua kenaikan lagi masing-masing sebesar 25 bp setelah September, pada Kuartal I dan Kuartal III 2027, dari sebelumnya kenaikan 25 bp pada Oktober dan Kuartal II 2027,” yang mengindikasikan satu langkah tambahan dalam siklus pengetatan dan lintasan normalisasi yang lebih curam secara keseluruhan. sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di saat bersamaan, Dolar AS tertekan terhadap mata uang utama akibat anjloknya imbal hasil Treasury Amerika Serikat (AS). Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja Greenback terhadap enam mata uang utama, bergerak melandai di dekat level terendah baru tujuh minggu di angka 98,77 yang sempat dicapai pada hari Rabu.

Penurunan imbal hasil obligasi AS terjadi setelah Departemen Keuangan AS membeberkan rencana penggelembungan pembelian kembali obligasi tenor panjang demi meredam tekanan biaya pinjaman yang tinggi.

Tags

Terkini