Laba PT Timah Tbk Terbang 804 Persen Mencapai Rp 2,7 Triliun

Rabu, 29 Juli 2026 | 19:28:45 WIB
Ilustrasi spt timah (foto : NET)

JAKARTA – PT Timah Tbk (TINS) berhasil meraup laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga Rp 2,7 triliun sepanjang semester I-2026. Perolehan laba bersih tersebut melambung 804% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 sebesar Rp 300 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, BUMN ini membukukan laba Rp 364 per saham. Angka ini meningkat pesat dari Rp 40 per saham pada paruh pertama tahun 2025.

Perseroan mengantongi pendapatan senilai Rp 10,42 triliun pada semester I-2026, tumbuh 247% dibanding semester I-2025 yang tercatat Rp 4,22 triliun. Lonjakan ini dipicu oleh tingginya volume penjualan serta kenaikan harga jual rata-rata logam timah di pasar yang kondusif.

Pihak manajemen menyatakan laba bersih Timah (TINS) semester I-2026 senilai Rp 2,71 triliun ini telah melampaui target tahunan 2026 sebesar Rp 1,61 triliun, atau setara 169% dari target.

Mengenai posisi keuangan, aset perseroan naik 21% menjadi Rp 16,45 triliun pada semester I-2026 dari Rp 13,64 triliun pada akhir 2025. Liabilitas perseroan naik 13% menjadi Rp 5,90 triliun dari Rp 5,23 triliun, sedangkan ekuitas naik 25% menjadi Rp 10,55 triliun dari Rp 8,41 triliun berkat capaian laba bersih tersebut.

Direktur Utama Timah (TINS), Restu Widiyantoro menyampaikan bahwa hasil kinerja semester I-2026 ini membuktikan keberhasilan strategi transformasi operasional dan bisnis perseroan.

“Peningkatan produktivitas, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor utama yang mendorong pencapaian tersebut,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa ke depannya perseroan bakal terus memperkuat fundamental usaha melalui langkah-langkah strategis.

“Ke depan, kami akan terus memperkuat fundamental usaha melalui kegiatan eksplorasi yang berkelanjutan, penguatan tata kelola pertambangan, serta peningkatan efisiensi operasional guna memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi pasar timah global selama semester I-2026 tetap menunjukkan tren yang solid di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.

Manajemen TINS menyebutkan harga timah bertahan di level tinggi karena terbatasnya pasokan dari beberapa negara produsen utama.

Rata-rata harga Cash Settlement Price logam timah di London Metal Exchange (LME) semester I-2026 mencapai US$ 50.319,19 per metrik ton. Angka ini melonjak 56,68% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 32.115,77 per metrik ton.

Kenaikan harga ini mencerminkan kuatnya fundamental pasar timah global meski masih dipengaruhi dinamika pasokan.

Kondisi pasokan timah global mulai membaik pada pertengahan tahun yang ditandai dengan naiknya stok gudang LME dan pulihnya produksi daerah tertentu. Persediaan timah di gudang LME akhir Juni 2026 mencapai 8.575 ton, naik 58,36% dari posisi awal tahun sebesar 5.415 ton.

Dari sisi permintaan, segmen solder masih mendominasi konsumsi dunia sebesar 50%, utamanya untuk kebutuhan industri elektronik dan semikonduktor. Prospek sektor ini diperkirakan tetap positif seiring melesatnya investasi pada teknologi AI, pusat data, kendaraan listrik, dan infrastruktur energi.

Tren tersebut diprediksi semakin menguatkan posisi timah sebagai bahan baku vital bagi teknologi modern.

Merujuk data CRU Tin Monitor, produksi timah global semester I-2026 tercatat 173.536 ton, sedangkan konsumsinya menembus 179.256 ton. Defisit pasokan (supply deficit) ini diperkirakan menjadi pendorong utama prospek positif industri timah pada semester II-2026.

Terkini