Saham Emiten CPO Menanjak, Simak Prospek dan Rekomendasi Analis

Rabu, 29 Juli 2026 | 19:28:45 WIB
Ilustrasi saham cpo (foto : NET)

JAKARTA – Saham sejumlah emiten kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) tercatat menanjak dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan tersebut melanda beberapa saham emiten CPO, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang naik 10,08 persen dalam sebulan terakhir. Selain itu, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) naik 9,06 persen, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) naik 21,45 persen, PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) naik 29,48 persen, dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) naik 20,18 persen.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Indonesia Abida Massi Armand menjelaskan, terdapat tiga katalis utama yang berjalan secara bersamaan. Katalis tersebut mencakup implementasi B50 efektif Juli 2026 yang menyerap CPO domestik secara signifikan dan mempersempit pasokan ekspor, harga CPO global yang solid di atas MYR 4.600 per ton didukung permintaan India dan China, serta pelemahan rupiah yang mengembangkan pendapatan ekspor dalam denominasi rupiah secara otomatis.

“Kenaikan saham berportensi berlanjut selama realisasi B50 berjalan sesuai rencana dan harga CPO global tetap di level saat ini,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, rally saham emiten sawit juga disebabkan oleh harga minyak Brent tembus US$ 100 barel yang membuat CPO sebagai alternatif energi lebih kompetitif. Saham emiten sawit pun diperkirakan akan terus terkerek selama B50 berjalan lancar dengan pembayaran BPDPKS tepat waktu dan harga minyak bumi tetap tinggi.

“Risiko reversal adalah jika terjadi gencatan senjata Iran-AS permanen yang bisa menurunkan harga minyak bumi ke US$ 75 - US$ 80 per barel yang bisa menekan CPO,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menyampaikan, pendorong kenaikan harga saham emiten CPO dipengaruhi oleh tingginya probabilitas El Niño dan kejelasan implementasi PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Berdasarkan proyeksi NOAA, probabilitas terjadinya El Niño yang sangat kuat pada Oktober–Desember 2026 mencapai 81 persen, bahkan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak 1950.

Kondisi cuaca yang lebih kering diproyeksikan bakal menekan produktivitas perkebunan kelapa sawit, sehingga memicu ekspektasi kenaikan harga CPO.

“Secara historis, setelah periode El Niño, harga CPO cenderung meningkat sekitar 5–19% YoY pada tahun berikutnya,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain itu, kejelasan dari implementasi DSI menyebabkan diskon harga CPO Indonesia terhadap Malaysia menyempit menjadi sekitar 23 persen pada Juni 2026, dibandingkan 24 persen pada bulan sebelumnya. Imam berpendapat bahwa tren positif saham-saham CPO masih berpotensi berlanjut hingga paruh kedua 2026 selama ekspektasi penguatan harga CPO tetap terjaga berkat dukungan El Niño dan B50.

“Namun, investor tetap perlu mencermati risiko perubahan regulasi maupun kondisi cuaca yang lebih ekstrem dari perkiraan,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Abida menuturkan, prospek saham emiten CPO tetap konstruktif didukung realisasi penuh B50, pemulihan produksi pasca El Niño yang mendorong volume semester II 2026, dan harga CPO yang masih sangat tinggi. Di samping itu, saham emiten CPO dipandang masih menarik karena valuasinya yang masih terdiskon serta katalis B50 yang belum sepenuhnya tecermin dalam harga.

“Emiten yang unggul hingga akhir 2026 adalah mereka dengan usia tanaman produktif, biaya produksi rendah, dan eksposur B50 tinggi melalui penjualan domestik,” tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Wafi menyatakan, prospek kinerja saham emiten CPO ke depan masih konstruktif untuk emiten terintegrasi (refinery dan biodiesel plant) yang lebih mampu mengoptimalisasi rantai suplai.

Penguatan harga minyak bumi serta program B50 yang mendorong permintaan domestik secara struktural menjadi sentimen positif utama bagi emiten CPO. Adapun sentimen negatif dipicu oleh keterlambatan pembayaran BPDPKS yang berisiko mengganggu arus kas serta perlambatan ekonomi global akibat Tarif Trump yang menekan permintaan minyak nabati.

“Emiten jawara tahun ini kemungkinan emiten dengn kapasitas biodiesel terbesar dan track record subsidi yang baik,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Imam menuturkan, prospek sektor CPO hingga akhir 2026 masih relatif positif. Secara fundamental, harga CPO diperkirakan menguat pada semester II 2026 dengan sokongan implementasi penuh B50 dan meningkatnya dampak El Niño.

Meskipun dampak terbesar El Niño terhadap pembentukan tandan buah segar (TBS) umumnya baru terlihat dalam 12–18 bulan setelah kemunculannya, ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan pasokan sudah mulai menjadi sentimen positif sejak sekarang. Selain itu, persediaan minyak sawit Malaysia yang sempat naik pada Juni akibat produksi tumbuh lebih cepat dibanding ekspor diperkirakan bakal kembali menurun seiring dampak cuaca kering.

“Kondisi ini juga berpotensi menjaga keseimbangan pasar dan menopang harga CPO,” tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Imam merekomendasikan beli untuk TAPG dengan target harga Rp 2.100 per saham.

Terkini