Danantara Bidik Investasi Transfer Teknologi untuk Industri Baru

Rabu, 29 Juli 2026 | 19:28:45 WIB
Ilustrasi Danantara (foto : NET)

JAKARTA – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menegaskan strategi investasi pemerintah ke depan tidak lagi hanya berfokus pada hilirisasi sumber daya alam, melainkan juga mendorong pembangunan industri baru melalui transfer teknologi dan penguatan kemampuan industri nasional.

Managing Director Industrialization BPI Danantara Ardy Muawin mengatakan investasi yang masuk ke Indonesia harus mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri melalui penguasaan teknologi, pengembangan talenta, dan pembentukan rantai pasok nasional.

"Melalui Danantara, pemerintah berupaya mendorong investasi pada sektor-sektor strategis yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Fokusnya tidak hanya pada hilirisasi sumber daya alam, tetapi juga pembangunan industri baru yang didukung transfer teknologi, pengembangan talenta, dan penciptaan rantai pasok nasional," ujar Ardy dalam keterangannya, Rabu (29/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ardy menilai selama ini Indonesia masih terlalu bergantung pada ekspor komoditas dan keunggulan tenaga kerja berbiaya murah. Pola tersebut dinilai tidak cukup untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara maju.

"Kalau kami hanya mengikuti mekanisme pasar, Indonesia akan terus menjual sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Pertanyaannya, apakah itu masa depan yang kami inginkan sebagai sebuah bangsa?" ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Karena itu, Danantara tidak hanya mengejar realisasi investasi semata, melainkan memastikan investor yang masuk membawa kemampuan teknologi yang dapat dikembangkan di dalam negeri.

Senada, President Director Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya F. Arif mengatakan penguasaan teknologi menjadi tantangan terbesar dalam membangun industri baterai nasional.

Menurutnya, IBC memulai pengembangan industri melalui kemitraan strategis dengan perusahaan global guna mempelajari teknologi dan proses manufaktur baterai. Namun, ketergantungan terhadap teknologi asing tidak boleh berlangsung permanen.

"Kami memulai dari kemitraan dengan pemain global untuk belajar mengoperasikan teknologi. Tetapi kami tidak boleh berhenti di sana. Target akhirnya adalah membangun kapabilitas dan memiliki teknologi sendiri," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Aditya menambahkan industri baterai berkembang sangat cepat sehingga Indonesia harus memperkuat riset, inovasi, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.

"Yang kami bangun bukan sekadar pabrik baterai, tetapi kemampuan teknologi Indonesia. Oleh karena itu, IBC tidak hanya berarti Indonesia Battery Corporation. Bagi kami, IBC juga berarti Indonesia Battery Champion," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Wakil Koordinator Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi Dimas Muhamad mengatakan Indonesia perlu belajar dari Korea Selatan dan Vietnam yang berhasil mentransformasi perekonomiannya melalui pembangunan sektor industri.

"Kalau kami ingin menjadi negara maju dan menghadirkan lapangan kerja berkualitas, kami harus memiliki industri yang kokoh sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Dimas, keberhasilan industrialisasi tidak cukup hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk. Indonesia juga harus mampu membangun perusahaan nasional yang menguasai teknologi dan memiliki daya saing global.

"Made in Indonesia saja belum cukup. Yang kami butuhkan adalah Made by Indonesia. Kami harus memiliki perusahaan nasional yang mampu menyerap teknologi, berinovasi, dan menjadi global champion," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dia menjelaskan transformasi industri yang berhasil bertumpu pada tiga aspek utama, yakni investasi (investment), penyerapan teknologi (infusion), dan inovasi (innovation). Oleh sebab itu, pemerintah dinilai perlu menghadirkan kebijakan yang mendorong pengembangan industri strategis sekaligus memberikan ruang bagi inovasi.

"Kalau kami sepakat Indonesia harus melakukan industrialisasi hijau, maka kami juga harus membangun koalisi yang sama kuatnya. Ini bukan sekadar membantu industri, tetapi menciptakan lapangan kerja berkualitas dan menjadikan Indonesia bangsa yang produktif serta mampu menciptakan teknologinya sendiri," tutur Dimas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini