JAKARTA – Goldman Sachs, raksasa perbankan Wall Street, mengeluarkan peringatan teranyar untuk pasar finansial dunia. Harga minyak mentah jenis Brent diproyeksikan dapat melonjak tajam melewati USD120 per barel pada kuartal keempat 2026 apabila gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz berlanjut tanpa kejelasan.
Kekhawatiran pasar energi meningkat lagi sepanjang bulan ini seiring memanasnya kembali perselisihan bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini kian memburuk akibat ancaman milisi Houthi Yaman yang hendak memblokade distribusi minyak Arab Saudi lewat rute Laut Merah.
Padahal, Laut Merah merupakan jalur alternatif vital guna menyalurkan pasokan minyak mentah Teluk Persia yang terdampak konflik kepada para konsumen internasional.
Melalui laporan riset tertanggal 20 Juli, tim analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven menjelaskan bahwa eskalasi di Timur Tengah memangkas estimasi pasokan minyak Teluk Persia hingga di bawah 45% dari level pra-perang. Namun, proyeksi USD120 per barel bukan merupakan skenario dasar utama lembaga keuangan tersebut karena harga diperkirakan melandai jika de-eskalasi terjadi.
"Konflik di Timur Tengah dan penurunan estimasi aliran minyak Teluk Persia hingga di bawah 45% dari level pra-perang telah mendorong harga minyak kembali naik. Walau skenario dasar kami menempatkan Brent di USD80 per barel pada kuartal IV dan USD75 pada tahun depan dengan asumsi de-eskalasi, risiko terhadap proyeksi ini sangat condong ke arah atas (tilted to the upside)," tulis Struyven sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Goldman Sachs menilai susutnya cadangan minyak global pada kuartal kedua membuat pasar energi semakin rawan terhadap guncangan pasokan. Meski begitu, terdapat dua faktor penahan yang berpotensi mencegah lonjakan harga yang berlebihan.
Faktor pertama adalah turunnya impor China akibat merosotnya volume pembelian minyak oleh raksasa ekonomi Asia tersebut. Selanjutnya adalah elastisitas permintaan, yakni kebiasaan konsumen dunia dalam mengurangi penggunaan BBM ketika harga tak lagi terjangkau.
Saat ini, harga minyak Brent berjangka berada di level USD88,65 per barel. Secara historis, harga Brent pernah menorehkan rekor tertinggi melampaui USD126 per barel pada akhir April lalu ketika tahap awal perang AS-Iran terjadi.
Untuk para investor yang berupaya membentengi portofolio dari dampak konflik geopolitik berkepanjangan—baik perselisihan di Timur Tengah atau serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia—Goldman Sachs merekomendasikan langkah khusus.
Analis menyarankan investor mengambil posisi long pada timespread solar/diesel Eropa untuk rentang periode Desember 2026 sampai Maret 2027.
"Pasar solar sudah sangat ketat sebelum perang. Di saat yang sama, Ukraina terus menggempur kilang minyak Rusia, ditambah risiko ekstra pada pasokan akibat badai gelombang musim panas, serta penundaan pemeliharaan pabrik," jelas laporan tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mampukah jalur diplomasi internasional meredam ketegangan di Selat Hormuz sebelum lonjakan harga USD120 per barel memberatkan dompet masyarakat?