Analisis Teknikal IHSG Berpotensi ke 6.000, Investor Asing Masih Jual

Selasa, 07 Juli 2026 | 15:09:54 WIB
Ilustrasi: IHSG berpotensi menguat menuju level 6.000 meski aksi jual investor asing masih berlangsung. (Gambar: NET)

JAKARTA – Sebagian analis memprediksi bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki peluang untuk menguat, meskipun pergerakannya diperkirakan relatif terbatas. Aksi jual investor asing yang konsisten terjadi sejak awal tahun dinilai menjadi faktor penghambat utama.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa IHSG cenderung berhasil melakukan rebound secara teknikal. Namun, indikator relative strength index (RSI) saat ini masih menunjukkan sinyal negatif.

“Seyogyanya, pergerakan IHSG pada hari ini diperkirakan masih positif sehingga kecenderungan rebound berlanjut,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. Nafan menambahkan bahwa aksi jual dari investor asing masih menjadi faktor yang membatasi penguatan indeks komposit.

“Potensi kenaikan kemungkinan berlangsung secara bertahap,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. Nafan menetapkan titik support di kisaran 5.848 dan 5.723, dengan resistance di angka 5.972 serta 6.127.

Di sisi lain, Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak pada rentang support 5.800, pivot 5.900, hingga resistance 6.000. Secara teknikal, IHSG telah ditutup di atas rata-rata pergerakan lima hari (MA5) dan 10 hari (MA10), meskipun masih berada di bawah MA20.

"Sehingga secara teknikal IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan dan menguji level 6.000," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Penguatan tersebut diakui belum sepenuhnya didukung oleh aktivitas transaksi yang kuat.

Phintraco Sekuritas mencatat volume dan nilai perdagangan masih tergolong sepi, dengan total volume sekitar 19,6 miliar saham dan nilai transaksi lebih dari Rp9,4 triliun. Angka ini masih jauh di bawah rata-rata harian yang biasanya mencapai lebih dari 41 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp24 triliun.

Menurut Phintraco, kondisi ini mencerminkan aktivitas pasar yang didominasi investor domestik karena pelaku pasar memilih bersikap wait and see. "Relatif menurunnya volume dan nilai transaksi akhir-akhir ini diperkirakan karena perdagangan lebih didominasi oleh investor domestik, serta investor yang cenderung wait and see di tengah minimnya katalis positif dan di tengah maraknya IPO," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Selain itu, musim liburan sekolah dan berlangsungnya Piala Dunia 2026 dinilai turut memengaruhi aktivitas perdagangan di pasar saham. Pasar juga mencermati rencana penyesuaian kebutuhan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan turun menjadi sekitar Rp174 triliun pada 2027 dari sebelumnya Rp268 triliun.

Phintraco menilai penurunan anggaran tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap defisit APBN, sehingga menjadi sentimen positif bagi pasar saham. Sementara itu, analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai penguatan IHSG masih didominasi volume pembelian meski tertahan area MA20.

"Posisi IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (b) dari wave [iv] pada skenario hitam," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Herditya tetap mengingatkan bahwa IHSG masih memiliki risiko terkoreksi ke kisaran 5.472 hingga 5.540.

Investor diminta mencermati skenario alternatif, yakni apabila IHSG sedang membentuk awal wave [v] dari wave 3 yang membuka peluang tren penguatan berlanjut.

Terkini