IHSG Berpeluang Rebound di Tengah Aksi Jual Investor Asing

Selasa, 07 Juli 2026 | 15:09:54 WIB
Ilustrasi: IHSG menguat 0,69 persen ke level 5.916 pada akhir perdagangan Senin (7/6/2026). (Gambar: NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,69 persen ke level 5.916 pada akhir perdagangan Senin (7/6/2026). Saat itu, bursa saham Indonesia mencatatkan total transaksi yang tergolong kecil, yakni sekitar Rp9,5 triliun dengan 19,83 miliar saham yang diperjualbelikan.

Sektor konsumen nonprimer, teknologi, dan energi mencatatkan penguatan paling signifikan, masing-masing sebesar 1,26 persen, 0,91 persen, dan 0,9 persen. Sejumlah analis memproyeksikan IHSG masih memiliki peluang rebound, meski gerakannya relatif terbatas akibat tekanan aksi jual asing yang terus berlanjut.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa secara teknikal IHSG berpotensi rebound, walaupun indikator Relative Strength Index (RSI) masih menunjukkan sinyal negatif. “Seyogyanya, pergerakan IHSG pada hari ini diperkirakan masih positif sehingga kecenderungan rebound berlanjut,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Nafan menambahkan bahwa aksi jual investor asing menjadi faktor penghambat penguatan indeks Komposit. “Potensi kenaikan kemungkinan berlangsung secara bertahap,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ia menetapkan titik support di kisaran 5.848 dan 5.723, dengan resistance di angka 5.972 dan 6.127. Tercatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebesar Rp89,07 triliun di pasar reguler sejak awal tahun, dengan akumulasi Rp2,26 triliun dalam sepekan terakhir.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyebutkan bahwa rendahnya nilai transaksi disebabkan oleh kombinasi berbagai sentimen negatif. "Market kami cenderung sepi karena dipicu oleh aksi jual bersih investor asing secara besar-besaran, pelemahan nilai tukar rupiah, serta sikap pelaku pasar domestik yang memilih mengambil posisi wait and see akibat minimnya katalis positif yang ada di pasar saat ini," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Harry berpendapat bahwa aktivitas perdagangan akan meningkat jika terdapat katalis positif, seperti pemulihan nilai tukar rupiah, kepastian kebijakan, serta pelonggaran moneter global. Menurutnya, pemerintah perlu mengambil kebijakan yang kredibel untuk meningkatkan kepercayaan investor kembali.

Analisis Panin Sekuritas, Zaidan, menilai lesunya transaksi juga dipengaruhi oleh terpecahnya fokus investor ke berbagai penawaran umum perdana saham (IPO). Selain itu, pasar bersikap konservatif akibat sentimen makro domestik yang belum akomodatif dan penundaan keputusan klasifikasi pasar oleh MSCI.

“Karena kombinasi ramainya IPO dan sikap konservatif pasar seiring sentimen makro domestik yang belum akomodatif, serta ditundanya keputusan MSCI," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Berdasarkan data BEI, rata-rata nilai transaksi harian bursa menyusut 35,9 persen menjadi Rp11,27 triliun dari sebelumnya Rp17,58 triliun. “Rata-rata nilai transaksi harian bursa mengalami perubahan sebesar 35,9% menjadi Rp11,27 triliun dari Rp17,58 triliun,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Penurunan tersebut juga terlihat dari rata-rata volume transaksi harian yang terkoreksi 30,35 persen menjadi 17,54 miliar lembar saham. “Rata-rata frekuensi transaksi harian bursa selama sepekan turut mengalami perubahan sebesar 16,71% menjadi 1,44 juta kali transaksi dari 1,73 kali transaksi pada pekan sebelumnya,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kapitalisasi pasar BEI tercatat menyusut 0,14 persen menjadi Rp10.287 triliun dari posisi sebelumnya Rp10.302 triliun. Sementara itu, frekuensi transaksi harian selama sepekan juga turun 16,71 persen menjadi 1,44 juta kali transaksi.

Terkini