JAKARTA – Penyedia indeks global MSCI Inc secara resmi tetap membekukan saham Indonesia dalam agenda tinjauan indeks bulan Agustus 2026. Keputusan ini mencakup pembekuan peningkatan foreign inclusion factors serta number of shares pada MSCI Global Investable Market Indexes.
MSCI juga memutuskan untuk membekukan penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Selain itu, mereka tidak akan menerapkan kenaikan klasifikasi antarindeks berdasarkan segmen ukuran.
“MSCI akan tetap menghapus saham-saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka High Shareholding Concentration,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. MSCI akan mengadopsi data pengungkapan saham 1 persen guna menyesuaikan estimasi free float dalam tinjauan ini.
Informasi lebih lanjut mengenai pasar Indonesia akan disampaikan oleh MSCI sebelum tinjauan indeks bulan November 2026. Sebelumnya, MSCI Inc memutuskan tetap mempertahankan status bursa saham Indonesia di emerging markets.
MSCI menilai kualitas informasi dan transparansi pasar di Indonesia mengalami penurunan. Penilaian tersebut tertuang dalam 2026 Global Market Accessibility Review yang dirilis pada Kamis (18/6/2026).
MSCI menyoroti adanya hambatan struktural yang membuat akses pasar Indonesia kurang kompetitif dibanding negara emerging markets lain. MSCI secara eksplisit menurunkan penilaian information flow menjadi memburuk dari posisi sebelumnya yang positif.
“Akibat terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham dan adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi sehinga menghambat proses pembentukan harga yang wajar,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. Konsen lain dari MSCI meliputi hak investor asing, liberalisasi valuta asing, hingga mekanisme short selling.
“Pengumuman MSCI ini menjadi momentum untuk terus melanjutkan, memperkuat, dan mengakselerasi agenda-agenda reformasi pasar modal yang telah kami canangkan sejak awal tahun ini," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Hasan Fawzi selaku Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK menilai laporan ini mengonfirmasi posisi Indonesia di kelompok emerging market.
Menurutnya, penggunaan data yang lebih transparan dalam proses penilaian MSCI menunjukkan upaya pembenahan mulai mendapat perhatian investor global.