Laba Bersih DEWA Melambung 34,6% di Kuartal I 2026 Capai Rp92,7 M

Kamis, 30 April 2026 | 13:50:54 WIB
Ilustrasi PT Darma Henwa Tbk (DEWA) (https://facsekuritas.co.id/storage/media/original/dewa2.jpg)

JAKARTA – Laba bersih DEWA melambung 34,6% menjadi Rp92,7 miliar di kuartal I 2026, ditopang penurunan beban pajak yang drastis meski pendapatan perseroan tercatat menyusut tipis secara tahunan.

PT Darma Henwa Tbk (DEWA), emiten jasa pertambangan milik Grup Bakrie, merilis laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026 dengan catatan laba yang kontras terhadap tren pendapatannya. Perseroan berhasil mengangkat laba jauh melampaui pertumbuhan top line-nya, berkat kombinasi efisiensi beban dan penurunan kewajiban pajak yang signifikan.

"Laba bersih DEWA tercatat Rp92,71 miliar pada kuartal I-2026, melejit 34,57 persen dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp68,89 miliar," demikian mengacu pada keterbukaan informasi perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Kamis (30/4/2026).

Pendapatan DEWA pada Januari–Maret 2026 tercatat sebesar Rp1,55 triliun, turun 2,2 persen dibandingkan Rp1,58 triliun pada kuartal I-2025. Meski omzet mengecil, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan lebih dalam, yakni turun 4,3 persen secara year-on-year (YoY) menjadi Rp1,28 triliun, sehingga laba bruto naik 8,9 persen menjadi Rp268,76 miliar dari Rp246,71 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Faktor yang paling menentukan lonjakan laba bersih adalah penurunan beban pajak penghasilan yang sangat tajam. Pada kuartal I-2025, beban pajak tercatat mencapai Rp60,67 miliar, namun di kuartal I-2026 angka tersebut terempas 60,4 persen menjadi hanya Rp23,96 miliar. Kondisi ini menjadi katalis utama yang mendorong laba bersih melesat jauh melampaui pertumbuhan laba operasional.

Di sisi lain, laba sebelum pajak penghasilan pada kuartal I-2026 justru merosot 9,8 persen menjadi Rp116,67 miliar dari Rp129,35 miliar pada periode yang sama 2025. Penurunan ini dipicu oleh tekanan dari sisi beban umum dan administrasi yang membengkak menjadi Rp75,93 miliar dari Rp61,36 miliar, serta beban keuangan yang melonjak dari Rp56,99 miliar menjadi Rp70,17 miliar seiring penguatan struktur utang perseroan.

Dari sisi neraca, gambaran yang muncul lebih beragam. Total ekuitas DEWA per 31 Maret 2026 tercatat Rp7,89 triliun, melorot 8,1 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp8,59 triliun. Total liabilitas turun tipis 1 persen secara YoY menjadi Rp8,06 triliun, sementara total aset perseroan menyusut 4,7 persen menjadi Rp15,95 triliun.

Yang paling mencolok adalah penurunan kas dan setara kas yang sangat tajam. Posisi kas DEWA anjlok 69,4 persen dalam satu kuartal, dari Rp1,59 triliun pada 31 Desember 2025 menjadi hanya Rp486,82 miliar per 31 Maret 2026. Penyusutan kas yang signifikan ini sejalan dengan sejumlah pengeluaran besar, termasuk pembayaran utang jangka panjang sekitar Rp246 miliar, cicilan pinjaman bank Rp167 miliar, serta belanja aset tetap Rp253 miliar dalam rangka penguatan armada internal.

Manajemen DEWA menilai strategi insourcing armada alat berat milik sendiri yang telah dijalankan sejak 2025 terus memberikan hasil positif pada struktur biaya. Langkah mengurangi ketergantungan pada subkontraktor terbukti menekan rasio beban pokok terhadap pendapatan, meski di sisi lain kebutuhan belanja modal untuk memperbarui dan menambah armada menjadi tekanan tersendiri pada arus kas jangka pendek perseroan.

Terkini