Laba Naik 10 persen, Maybank Sekuritas Tetap Rekomendasi Jual UNVR

Laba Naik 10 persen, Maybank Sekuritas Tetap Rekomendasi Jual UNVR
Ilustrasi unilever indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA – Kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada semester I 2026 dinilai belum cukup meyakinkan bagi Maybank Sekuritas Indonesia. Meski laba inti UNVR meningkat, analis menilai prospek pemulihan laba masih menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari hilangnya keunggulan kompetitif hingga dampak pelepasan bisnis es krim dan teh.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama pun mempertahankan rekomendasi sell untuk saham UNVR dengan target harga Rp 1.500 per saham. Target tersebut menggunakan asumsi valuasi price earning ratio (PER) 15,3 kali terhadap estimasi laba 2026, atau sekitar 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata PER tiga tahun terakhir.

"Kami mempertahankan rekomendasi sell pada UNVR karena keunggulan kompetitifnya masih belum terlihat jelas. Selain itu, kehilangan laba dalam jangka pendek akibat penjualan bisnis es krim dan teh akan menjadi hambatan yang membuat kinerja belum dapat kembali ke level sebelum pandemi 2019," tulis Willy dalam riset 31 Juli 2026 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Willy, kinerja semester I 2026 memang sesuai dengan ekspektasi Maybank Sekuritas, tetapi pihaknya tetap mempertahankan proyeksi laba per saham (EPS) UNVR 2026-2028 yang berada di level terendah dibandingkan konsensus pasar.

Pada semester I 2026, laba inti UNVR tercatat sebesar Rp 2 triliun atau tumbuh 10% secara tahunan. Angka tersebut sudah mencapai 56% dari estimasi Maybank Sekuritas untuk tahun berjalan, namun masih berada di bawah konsensus pasar yang mencapai sekitar 46%.

Pertumbuhan laba tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor non-operasional, termasuk keuntungan satu kali sebesar Rp 870 miliar serta kontribusi laba Rp 17 miliar dari bisnis teh yang telah dilepas pada 7 Januari 2026.

Dari sisi pendapatan, UNVR membukukan penjualan Rp 16,9 triliun pada semester I 2026 atau meningkat 7% secara tahunan. Namun, Maybank Sekuritas belum sepenuhnya melihat tren tersebut sebagai sinyal pemulihan yang kuat.

Pasalnya, pertumbuhan penjualan sepenuhnya berasal dari peningkatan volume, sementara harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) justru mengalami tekanan. Selain itu, pertumbuhan tersebut juga masih terbantu oleh basis rendah pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Margin bersih UNVR pada semester I 2026 tercatat sebesar 12,3%, naik tipis 30 basis poin dibandingkan tahun lalu. Kenaikan tersebut juga didukung keuntungan sekitar Rp85 miliar dari pelepasan aset.

Willy menilai tekanan terhadap kualitas laba mulai terlihat pada kuartal II 2026. Laba inti kuartal II tercatat Rp829 miliar atau hanya tumbuh 5% secara tahunan, akibat meningkatnya biaya transformasi dan lonjakan beban karyawan.

Biaya transformasi mencapai sekitar Rp 185 miliar atau setara 2,2% dari penjualan. Sementara itu, biaya gaji meningkat dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya dan naik 83% secara tahunan, terutama karena pembayaran insentif jangka panjang.

"Pengakuan akuntansi yang tidak beraturan terhadap kedua komponen biaya tersebut menunjukkan adanya penurunan kualitas laba kuartalan ke depan," ujar Willy sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi pendapatan, penjualan kuartal II 2026 mencapai Rp 8,4 triliun atau tumbuh 12% secara tahunan dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri yang hanya berada di level satu digit rendah. Namun, pola pertumbuhan masih serupa dengan semester I, yakni didorong volume dengan penurunan tipis harga jual serta terbantu basis rendah tahun sebelumnya.

Selain tekanan operasional, UNVR juga menghadapi kenaikan biaya bahan baku. Margin bersih kuartal II 2026 tercatat 9,8%, turun 160 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya akibat tekanan biaya input dan peningkatan biaya operasional.

Hingga akhir 2026, Maybank Sekuritas memperkirakan pendapatan UNVR akan mencapai Rp 33,87 triliun dengan laba bersih Rp 3,73 triliun. Laba tersebut menurun dari tahun 2025 sebesar Rp 4,41 triliun, sementara pendapatan dan laba bersih UNVR masing-masing akan mencapai Rp 34,6 triliun dan Rp 3,83 triliun.

Willy menyebut kenaikan harga minyak mentah turut mendorong inflasi dua digit pada biaya kemasan dan bahan surfaktan. Di sisi lain, kenaikan harga minyak sawit yang masih tinggi, peningkatan biaya iklan dan promosi (A&P), kenaikan gaji, serta biaya distribusi laut untuk wilayah luar pulau turut menekan profitabilitas perseroan.

Dengan berbagai tantangan tersebut, Maybank Sekuritas menilai katalis positif bagi UNVR masih terbatas. Risiko kenaikan target harga hanya dapat muncul apabila perseroan mampu mencatat pertumbuhan penjualan dan margin kotor yang lebih tinggi dari perkiraan.

Sebagai alternatif di sektor konsumer, Maybank Sekuritas lebih memilih PT Mayora Indah Tbk (MYOR) karena dinilai memiliki pertumbuhan EPS yang lebih kuat serta risiko mata uang yang lebih rendah berkat tingginya pendapatan dalam dolar AS

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index