Indeks Bisnis-27 Melemah 0,36 Persen Imbas Tekanan Saham MIKA dan BUMI

Indeks Bisnis-27 Melemah 0,36 Persen Imbas Tekanan Saham MIKA dan BUMI
Ilustrasi saham komoditas (FOTO: NET)

JAKARTA – Indeks Bisnis-27 mengakhiri sesi perdagangan pada Rabu (29/7/2026) di zona merah. Penurunan indeks ini didorong oleh tekanan pada beberapa saham di sektor komoditas, energi, serta konsumer.

Berdasarkan data dari IDX Mobile, indeks hasil kerja sama Bursa Efek Indonesia dan Harian Bisnis Indonesia tersebut ditutup menyusut 1,50 poin atau 0,36% menuju posisi 417,56.

Nilai transaksi dari saham-saham konstituen Indeks Bisnis-27 mencatatkan angka Rp13,91 triliun dengan total volume perdagangan 12,54 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 355,3 ribu kali.

Dari total 27 saham konstituen, terdapat 18 saham yang mengakhiri hari di zona merah, empat saham menguat, serta lima saham bergerak stabil.

Pelepasan terbesar pada indeks dipicu oleh saham di sektor komoditas dan konsumer. Saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) menjadi penekan utama setelah merosot 3,95% ke posisi 1.700, diikuti oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang terkoreksi 3,64% ke posisi 159, serta PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang melemah 2,82% ke level 482.

Sektor ritel dan energi pun turut berada di area merah. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) terkikis 2,61% ke level 1.305, sementara PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) melorot 2,37% ke harga 1.235.

Di lain sisi, laju penurunan indeks ditahan oleh penguatan sejumlah saham lain. PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) memimpin kenaikan usai melonjak 2,80% ke angka 1.470, disusul PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) yang terangkat 1,38% ke level 1.465, serta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang naik 0,96% ke level 3.160.

Saham berkapitalisasi pasar paling besar, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), juga menyokong pergerakan indeks setelah menguat 0,80% menuju level 6.275.

Tim riset Phintraco Sekuritas menilai bahwa fokus para pelaku pasar saat ini tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve. Mengacu pada CME FedWatch Tool, tingkat probabilitas bank sentral Amerika Serikat untuk mempertahankan suku bunga berada pada kisaran 71%.

Di samping itu, melandainya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,602% serta penurunan harga minyak sebesar 4% menyusul meredanya ketegangan di Selat Hormuz turut membantu mengurangi kekhawatiran atas inflasi global.

Dari dalam negeri, pergerakan pasar masih terbebani oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Tekanan terhadap rupiah didorong oleh menguatnya dolar AS menjelang penetapan kebijakan The Fed, serta sikap wait and see dari investor atas proses penunjukan Gubernur Bank Indonesia definitif yang dianggap berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter.

Pasar juga mengamati potensi peningkatan risiko perdagangan global setelah United States Trade Representative (USTR) memberi sinyal kemungkinan pemberlakuan tarif impor tambahan bagi sejumlah negara di Asia, seperti Tiongkok, Vietnam, dan Korea Selatan. Langkah tersebut dinilai berpeluang mengganggu rantai pasok regional dan menjadi perhatian Indonesia yang sebelumnya telah dikenakan tambahan tarif impor sebesar 10% oleh pihak Amerika Serikat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index