Bursa Asia Rebound Pagi Ini Menanti Laba Big Tech dan Keputusan The Fed

Bursa Asia Rebound Pagi Ini Menanti Laba Big Tech dan Keputusan The Fed
Ilustrasi bursa saham asia (FOTO: NET)

JAKARTA – Bursa saham Asia mengalami penguatan pada perdagangan Rabu (29/7/2026) usai tertekan aksi jual besar sehari sebelumnya.

Namun, sentimen pasar tetap dibayangi kekhawatiran seputar valuasi saham teknologi, ketatnya persaingan industri kecerdasan buatan (AI), serta tingginya belanja investasi AI jelang rilis laporan keuangan raksasa teknologi dan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Harga minyak turut melonjak pada awal perdagangan seiring serangan baru di Timur Tengah yang mengakhiri ketenangan relatif konflik Amerika Serikat (AS)-Iran beberapa hari terakhir.

Para investor kini kembali mencermati dampak potensi gangguan pasokan energi terhadap inflasi dan arah suku bunga global.

Perhatian utama tertuju pada saham-saham semikonduktor Asia yang menjadi penggerak reli AI, meski laporan keuangan solid dari SK Hynix mampu meredakan sebagian kekhawatiran pasar.

Indeks KOSPI Korea Selatan melonjak lebih dari 1% pada awal perdagangan setelah sehari sebelumnya anjlok lebih dari 10% ke level terendah dalam tiga bulan.

Saham SK Hynix menguat sekitar 2% setelah mencatatkan lonjakan laba operasional kuartalan lebih dari enam kali lipat, walau masih di bawah ekspektasi pasar yang sangat tinggi.

"Secara umum, kondisi pasar saat ini lebih mencerminkan rotasi sektor daripada penghindaran risiko secara menyeluruh," kata Chris Weston, Head of Research Pepperstone sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,8% setelah merosot 3,6% sehari sebelumnya, walau masih berada di jalur penurunan sekitar 6,6% sepanjang Juli.

Indeks Nikkei Jepang juga naik sekitar 1%, namun tetap berpotensi mencatat penurunan sekitar 10% sepanjang bulan ini.

Para pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan Microsoft dan Meta yang dijadwalkan rilis pada Rabu waktu AS.

Hasil dari kedua perusahaan tersebut menjadi ujian penting bagi prospek investasi AI, setelah laporan Alphabet dan Tesla pekan lalu memicu kekhawatiran akibat arus kas yang mengecewakan.

Nick Twidale, Chief Market Strategist ATFX Global di Sydney memperkirakan volatilitas pasar saham masih akan tinggi.

"Saya pikir risiko kenaikan suku bunga The Fed juga akan menjadi perhatian investor. Jadi, alih-alih pasar yang biasanya lebih tenang menjelang keputusan The Fed, saya memperkirakan perdagangan akan tetap bergejolak," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kontrak berjangka Nasdaq bergerak fluktuatif di perdagangan Asia dan terakhir naik sekitar 0,5%, sementara kontrak berjangka bursa Eropa mengindikasikan pembukaan yang lebih tinggi.

Harga minyak Brent naik sekitar 3% menjadi US$ 86,80 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 3% menjadi US$ 81,95 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan Iran meluncurkan beberapa rudal balistik yang berhasil dicegat.

"Serangan terbaru menunjukkan kedua pihak masih jauh dari penyelesaian sengketa utama mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang sebelumnya menyebabkan nota kesepahaman (MOU) gagal dipertahankan," kata Tony Sycamore, analis pasar IG sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Iran sebelumnya telah menutup jalur pelayaran strategis tersebut bagi kapal asing usai serangan AS dan Israel pada 28 Februari.

Kesepakatan yang sempat membuka kembali jalur tersebut pada Juni runtuh pada awal Juli setelah Iran menembaki kapal yang menggunakan jalur yang tidak disetujui Teheran.

Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed yang diumumkan Rabu waktu setempat.

Pasar masih cenderung memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga, meski semakin banyak pejabat bank sentral AS yang mengkhawatirkan tekanan inflasi.

Berdasarkan harga pasar, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini berada di kisaran 33%.

Indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan menjelang pengumuman tersebut.

"Kami menilai pasar mungkin kembali meremehkan perubahan sikap The Fed yang semakin hawkish. Kenaikan harga energi yang sejauh ini masih moderat bisa menjadi faktor penentu bagi kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli," ujar Frank Flight, Head of Macro Strategy Citadel Securities sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Frank Flight, meski keputusan akan berlangsung sangat ketat, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli kini semakin besar

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index