Kupon Hingga 7 Persen, ORI030 Ludes Cetak Rekor SBN Ritel Online

Kupon Hingga 7 Persen, ORI030 Ludes Cetak Rekor SBN Ritel Online
Ilustrasi investasi aman (foto : NET)

JAKARTA – Minat pemodal terhadap instrumen investasi yang aman terpantau masih sangat tinggi di tengah dinamika pasar. Terbukti, salah satu instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel ludes terserap sebelum masa penawaran berakhir dan mencetak rekor penjualan daring tertinggi berkat kupon yang bersaing.

Penerbitan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 resmi habis terjual dari total kuota Rp 40 triliun pada Selasa pagi (28/7/2026). Jumlah kuota tersebut sempat dinaikkan dua kali lipat dari target awal sebesar Rp 20 triliun untuk mengakomodasi tingginya antusiasme investor.

Pemerintah menyediakan kuota pemesanan ORI030 tenor 3 tahun (OR030T3) sebesar Rp 34 triliun dan tenor 6 tahun (ORI030T6) sebesar Rp 6 triliun. Masa penawaran yang semula dijadwalkan pada 6-30 Juli 2026 terpaksa ditutup lebih awal karena alokasi kuota telah habis.

Nilai pemesanan ORI030 tersebut berhasil memecahkan rekor penjualan SBN ritel secara daring sepanjang sejarah. Capaian ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh ORI027 sebesar Rp 37,35 triliun pada Februari 2025.

ORI030 menawarkan imbal hasil sebesar 6,9% untuk tenor tiga tahun dan 7% untuk tenor enam tahun. Sementara itu, seri ORI027 sebelumnya memberikan kupon sebesar 6,65% (T3) dan 6,75% (T6).

Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari menyampaikan bahwa tingginya daya tarik ORI030 didorong oleh situasi ekonomi yang masih diliputi ketidakpastian.

“Karena iklim ekonomi yang sedang tidak pasti saat ini mendorong nasabah untuk lebih memilih aset yang konservatif seperti SBN, apalagi suku bunganya naik dibanding sebelumnya,” ungkap Putu, Rabu (29/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai daya pikat utama ORI030 terletak pada besaran kupon 6,9% tenor tiga tahun dan 7% tenor enam tahun.

Tingkat imbal hasil tersebut menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir untuk seri ORI. Dengan posisi BI rate sebesar 5,75%, selisih (spread) sekitar 115 bps hingga 125 bps sangat menarik bagi investor karena menawarkan hasil maksimal dengan risiko minim yang dijamin negara.

Yusuf memperkirakan minat masyarakat terhadap SBN ritel hingga akhir 2026 akan tetap solid seiring meningkatnya literasi keuangan dan kemudahan akses digital. Meski demikian, tingkat penyerapan seri lain belum tentu setinggi ORI030.

“Faktor yang paling menentukan tetap berada pada daya saing kupon terhadap BI Rate dan yield pasar, stabilitas rupiah, serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia. Selama kupon yang ditawarkan tetap kompetitif dan ketidakpastian pasar masih tinggi, permintaan investor akan tetap terjaga,” ujar Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan berencana merilis beberapa seri SBN ritel pada sisa tahun 2026. Seri tersebut meliputi SR025 (21 Agustus–16 September 2026), SWR007 (4 September–21 Oktober 2026), SBR015 (28 September–22 Oktober 2026), serta ST017 (6 November–2 Desember 2026).

Prospek penyerapan seri SR025 diproyeksikan cukup positif jika pemerintah menetapkan tingkat kupon yang sesuai dengan kondisi pasar. Karakteristik berbasis syariah juga dinilai mampu menjangkau basis investor yang lebih luas.

Meskipun demikian, fleksibilitas dalam menetapkan kuota tetap perlu dijaga agar penyerapan berlangsung optimal tanpa memicu kenaikan biaya pembiayaan yang berlebihan.

“Secara keseluruhan, saya melihat SBN ritel masih akan menjadi salah satu sumber pembiayaan domestik yang kuat sekaligus tetap menarik bagi investor sepanjang fundamental ekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal terjaga,” kata Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Putu menilai potensi kenaikan suku bunga akan terus menopang daya tarik instrumen SBN ritel, termasuk seri SR025. Status SR025 sebagai instrumen syariah juga memberikan nilai tambah dalam memikat investor.

“Apalagi ini seri SBN syariah, yang biasanya minatnya lebih tinggi dibanding konvensional, karena produk syariah dengan imbal hasil yang bagus itu jarang,” imbuh Putu sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index