Wall Street Ditutup Beragam Saat Pasar Menanti Kinerja Raksasa Teknologi

Wall Street Ditutup Beragam Saat Pasar Menanti Kinerja Raksasa Teknologi
Ilustrasi wall street (foto : NET)

NEW YORK – Perdagangan di bursa Wall Street berakhir bervariasi pada awal pekan seiring kewaspadaan investor menunggu rilis kinerja triwulanan perusahaan teknologi besar. Pada saat yang sama, timbul kekhawatiran bahwa tingginya harga minyak dapat mendorong Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga.

Pada Senin (27/7/2026), Indeks S&P 500 menguat tipis 0,02 persen ke posisi 7.413,18, Nasdaq Composite terkoreksi 0,18 persen menjadi 24.932,08, dan Dow Jones Industrial Average terangkat 0,51 persen ke level 52.210,08.

Sebanyak tujuh dari 11 sektor di S&P 500 mencatatkan kenaikan, dengan sektor barang konsumsi pokok memimpin sebesar 1,58 persen dan diikuti sektor teknologi informasi yang naik 1,25 persen.

Microsoft, Amazon, Meta, serta Apple dijadwalkan merilis Laporan keuangan kuartalan pekan ini. Para pemodal mulai mempertanyakan apakah laju penguatan saham berbasis kecerdasan buatan masih memiliki momentum untuk berlanjut.

Hasil kinerja Tesla dan Alphabet pada pekan sebelumnya sempat mengejutkan pasar karena memperlihatkan besarnya realisasi belanja untuk kecerdasan buatan.

Pada perdagangan tersebut, saham Walmart melaju 2,1 persen, Microsoft terangkat 1,9 persen, dan Johnson & Johnson menguat 1 persen, yang bersama-sama menopang S&P 500 di zona hijau.

Di sisi lain, harga minyak mentah melandai ke tingkat terendah dalam sepekan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya diskusi yang berjalan baik dengan pihak Iran terkait potensi kesepakatan damai, meski ia menegaskan tindakan militer bisa berlanjut bila negosiasi buntu.

Sebelumnya, lonjakan harga minyak sempat mendorong harga Brent berjangka menembus angka di atas US$ 100 per barel akibat ketegangan baru pada jalur pengiriman di Timur Tengah.

Indeks chip PHLX melanjutkannya tren penurunan dengan terkoreksi 2,2 persen. Indeks ini telah merosot 21 persen dari level tertinggi sepanjang masa pada 22 Juni, tetapi masih membukukan kenaikan 63 persen sepanjang tahun 2026.

Debut perdana produsen chip asal China, CXMT Corp, serta laporan hadirnya alat pembuat chip DUV buatan domestik China kian memperketat peta persaingan bagi industri semikonduktor AS.

"Hari ini merupakan kelanjutan dari rotasi pasar yang telah kami saksikan," kata Bill Merz, kepala riset pasar modal dan konstruksi portofolio di U.S. Bank Asset Management Group sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Sebagian dari reaksi pasar mungkin terkait dengan kecurigaan yang muncul bahwa mungkin kenaikan suku bunga akan segera terjadi," lanjutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Harga minyak mentah Brent merosot 8 persen ke level kisaran $89 per barel setelah pemerintah AS menghentikan sementara serangan udara dua pekan ke Iran pada Sabtu, menandai perubahan taktik Trump dalam konflik yang berjalan lima bulan ini.

Penurunan harga komoditas tersebut menyeret emiten migas, di mana saham Occidental Petroleum melorot 4,1 persen dan Exxon Mobil melemah 1,4 persen.

Keputusan suku bunga moneter The Fed dijadwalkan rilis pada Rabu, dengan pelaku pasar memperkirakan probabilitas 62 persen suku bunga bertahan dan 38 persen peluang kenaikan sebesar 25 basis poin berdasarkan indikator CME FedWatch.

Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi bulan Juni yang dirilis sehari setelah pengumuman The Fed akan menjadi acuan utama untuk menilai arah suku bunga hingga akhir tahun.

Konsensus analis memperkirakan agregat laba kuartal kedua S&P 500 melonjak 39 persen dibanding tahun lalu, dengan emiten terkait AI menjadi penyumbang utama pertumbuhan tersebut berdasarkan data LSEG I/B/E/S.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index