Potensi Cuan Besar Saham ICBP Grup Salim Capai 47 Persen

Potensi Cuan Besar Saham ICBP Grup Salim Capai 47 Persen
Ilustrasi saham konsumer (sumber foto : NET)

JAKARTA – Estimasi kinerja emiten sektor konsumer pada kuartal II-2026 menjadi sorotan BRI Danareksa Sekuritas. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang merupakan emiten Grup Salim menjadi salah satu yang direkomendasikan beli karena menyimpan potensi keuntungan besar.

Pertumbuhan pendapatan ICBP diperkirakan mencapai 3,9% yoy pada kuartal II-2026 oleh Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim dan Sabela Nur Amalina. “Proyeksi tersebut secara umum masih sejalan dengan estimasi kami untuk tahun 2026,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kenaikan harga bahan baku seperti minyak goreng, gandum, kentang, hingga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) memicu penurunan margin laba kotor dan margin laba bersih ICBP masing-masing menjadi 33,5% dan 11,1%. “Sementara itu, harga jual produk mi masih belum mengalami perubahan sejak awal tahun,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Laba inti ICBP sendiri diprediksi melonjak 50,6% yoy di kuartal II-2026 serta naik 17,7% yoy pada semester I-2026. Capaian pertumbuhan tersebut turut terdorong oleh perolehan keuntungan selisih kurs yang tercatat pada tahun sebelumnya.

Selain ICBP, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang juga bagian dari Grup Salim turut mendapatkan perhatian dari BRI Danareksa Sekuritas. Pendapatan INDF diproyeksikan tumbuh sebesar 4,9% yoy pada kuartal II-2026.

Dorongan utama pertumbuhan tersebut bersumber dari segmen agribisnis dan Bogasari, di samping kontribusi yang moderat dari ICBP. Sebaliknya, laba inti INDF diperkirakan mengalami koreksi 6,4% yoy pada semester I-2026.

“Proyeksi tersebut secara umum sejalan dengan estimasi kami, karena setara 52% dari proyeksi laba inti sepanjang 2026,” sebagaimana dilansir dari berita sumber. Di luar lingkup Grup Salim, perhatian BRI Danareksa Sekuritas tertuju pada PT Mayora Indah Tbk (MYOR).

Perolehan pendapatan MYOR diestimasi meningkat 5,6% yoy sepanjang kuartal II-2026. Hasil ini membuat pertumbuhan pendapatan selama semester I-2026 diproyeksikan cenderung mendatar bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Meskipun harga beberapa bahan baku utama masih berada di level yang menguntungkan, margin laba kotor dan margin operasional MYOR diprediksi tergerus masing-masing menjadi 23,5% dan 7,5%. Tekanan terhadap margin ini utamanya disebabkan oleh pembengkakan biaya pengangkutan serta kemasan.

Walau demikian, capaian laba inti MYOR sepanjang semester I-2026 diproyeksikan tetap solid dengan kenaikan 13,6% yoy. Di sisi lain, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diperkirakan mengalami penurunan pendapatan sebesar 14,8% yoy pada kuartal II-2026.

Secara kumulatif, total pendapatan UNVR pada semester I-2026 diproyeksikan menyusut 6,9% yoy. Tekanan inflasi yang bersumber dari dinamika geopolitik menjadi pemicu melemahnya daya beli serta permintaan konsumen.

Meski harus menanggung peningkatan biaya transformasi, laba bersih UNVR diproyeksikan cenderung stabil dibanding periode yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, emiten konsumer dalam cakupan riset BRI Danareksa Sekuritas diperkirakan membukukan pertumbuhan pendapatan 1,6% yoy di kuartal II-2026.

Namun, pendapatan secara kuartalan diproyeksikan mengalami penurunan 11,9% qoq lantaran pengaruh pola musiman pasca-Lebaran. Secara kumulatif, perolehan pendapatan sepanjang semester I-2026 ditaksir naik 3,5% secara tahunan.

“Itu sejalan dengan proyeksi kami dan konsensus analis untuk tahun 2026,” sebagaimana dilansir dari berita sumber. Sementara itu, margin emiten sektor konsumer diperkirakan tertekan akibat efek tertunda ketegangan geopolitik kuartal I-2026 yang menaikkan biaya logistik serta bahan baku.

Atas kondisi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor konsumer. Saham ICBP dan MYOR menjadi pilihan utama dengan status rekomendasi buy.

Target harga yang ditetapkan untuk saham ICBP yaitu sebesar Rp 10.500 dan saham MYOR di angka Rp 2.700. Saham ICBP menawarkan potensi keuntungan yang tergolong tinggi hingga 47%, begitu pula saham MYOR yang mencapai 49%.

“Kami lebih memilih saham-saham defensif, seperti MYOR dan ICBP, karena kedua perusahaan memiliki pertumbuhan penjualan yang relatif lebih tahan terhadap perlambatan konsumsi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index