Investor Asing Mulai Borong Saham BEI, IHSG Bakal Segera Bangkit?

Investor Asing Mulai Borong Saham BEI, IHSG Bakal Segera Bangkit?
Ilustrasi saham (sumber foto: NET)

JAKARTA – Investor asing mulai menunjukkan minat untuk kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Meskipun nilainya masih terbatas, aksi beli bersih (net buy) yang berlanjut dalam beberapa hari terakhir menjadi sinyal awal membaiknya sentimen terhadap aset domestik di tengah rotasi dana di pasar emerging market.

Pada penutupan perdagangan Selasa (21/7/2026), investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 30,76 miliar atau sekitar US$ 1,71 juta. Aksi ini melanjutkan tren positif pekan sebelumnya, saat investor asing membukukan pembelian bersih Rp 442,05 miliar atau setara US$ 24,97 juta sepanjang 13–17 Juli 2026. Akumulasi net buy asing dalam dua hari pertama pekan ini juga telah mencapai sekitar US$ 7,1 juta.

Aliran dana masuk ke Indonesia terjadi di saat beberapa bursa emerging market justru tertekan. Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, aksi jual terbesar oleh investor asing terjadi di Taiwan senilai US$ 8,76 miliar pada 13–17 Juli 2026.

Net sell juga melanda India sebesar US$ 667,7 juta, Korea Selatan US$ 456,8 juta, dan Vietnam US$ 80,3 juta. Sebaliknya, dana masuk tercatat di Thailand senilai US$ 407,5 juta, Brasil US$ 194,2 juta, Malaysia US$ 127,6 juta, Indonesia US$ 25 juta, serta Filipina US$ 14,5 juta.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Indonesia Abida Massi Armand menilai konsistensi net buy asing dalam beberapa hari terakhir, yang disertai penguatan rupiah dan bertahannya IHSG di atas level psikologis 6.000, menjadi penanda stabilisasi pasar yang lebih sehat.

"Ini lebih mencerminkan stabilisasi yang genuine dibanding sekadar technical rebound," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Abida melihat peluang berlanjutnya capital inflow dalam beberapa pekan mendatang masih terbuka. Prospek tersebut ditopang oleh meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang berpotensi mendorong rotasi dana ke pasar emerging market.

Dalam situasi tersebut, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, dan BBNI diperkirakan menjadi incaran utama investor asing lantaran likuiditas tinggi serta valuasi price to book value (PBV) berada di level terendah dalam lima tahun terakhir.

Di samping itu, saham komoditas seperti ANTM dan ADRO juga dinilai menarik seiring prospek harga komoditas yang masih kondusif.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa Indonesia menjadi salah satu tujuan rotasi modal regional karena struktur pasar sahamnya lebih defensif, didominasi sektor keuangan, komoditas, utilitas, dan infrastruktur yang memiliki arus kas relatif stabil.

Namun, keberlanjutan arus dana asing tetap bergantung pada faktor domestik seperti pertumbuhan laba emiten, stabilitas rupiah, inflasi, arah suku bunga Bank Indonesia, serta implementasi reformasi pasar modal. Dari sisi eksternal, arah kebijakan The Fed, pergerakan imbal hasil US Treasury, inflasi Amerika Serikat, dan dinamika geopolitik global masih menjadi penentu utama.

Kendati demikian, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengingatkan investor agar tidak tergesa-gesa menganggap arus masuk dana asing saat ini sebagai pembalikan tren.

Menurutnya, ketidakpastian global masih tinggi, sementara status freeze Indonesia dalam indeks MSCI tetap menjadi perhatian investor institusi global. Kondisi tersebut berpotensi membatasi besarnya arus dana asing ke pasar saham Indonesia dalam jangka pendek.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index