IHSG Menguat di Tengah Gejolak Bubble AI dan Konflik Amerika Serikat-Iran

IHSG Menguat di Tengah Gejolak Bubble AI dan Konflik Amerika Serikat-Iran
Ilustrasi saham (Sumber : NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketahanan di tengah tekanan pasar keuangan global akibat kekhawatiran terhadap potensi bubble sektor kecerdasan buatan atau AI dan memanasnya kembali konflik Amerika Serikat dengan Iran. Di saat mayoritas bursa saham dunia berada di zona merah, pasar saham Indonesia justru mencatatkan penguatan yang ditopang aksi beli investor.

Praktisi Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, mengatakan kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi sektor teknologi, khususnya emiten yang terkait dengan AI, telah memicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham semikonduktor global. Menurutnya, pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan belanja modal yang agresif dari perusahaan teknologi raksasa yang sebagian besar dibiayai utang.

"Kekhawatiran terhadap perlambatan belanja AI telah memicu sentimen risk off yang meluas di pasar keuangan global," kata Hans sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tekanan tersebut tercermin dari kinerja Philadelphia Semiconductor Index (SOX) yang merosot lebih dari 18 persen sepanjang Juli dan telah memasuki wilayah bearish setelah terkoreksi lebih dari 20 persen dari puncaknya. Meski demikian, secara tahun berjalan, indeks semikonduktor tersebut masih mencatat kenaikan hampir 65 persen.

Selain sentimen sektor teknologi, pasar global juga dibayangi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu aksi risk off. Hans menjelaskan serangkaian serangan militer yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir memperbesar kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi global.

"Lonjakan harga minyak akibat risiko geopolitik berpotensi memperpanjang periode suku bunga tinggi secara global, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan terhadap pasar saham dan aset berisiko," imbuhnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ketika mayoritas bursa saham global berada dalam tekanan akibat risiko geopolitik dan kekhawatiran bubble AI, IHSG justru mampu mencatat penguatan signifikan. Hans memaparkan kinerja positif tersebut didukung oleh aksi beli bersih investor asing di pasar reguler sebesar sekitar Rp1,2 triliun dengan total nilai transaksi mencapai Rp13,2 triliun.

Hans menilai salah satu faktor yang mulai menarik kembali minat investor global adalah langkah konkret reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Perubahan metodologi penentuan kategori High Shareholder Concentration membuat jumlah saham yang masuk kategori tersebut meningkat menjadi 51 emiten.

"Reformasi yang dilakukan OJK dan BEI menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas tata kelola dan transparansi pasar modal Indonesia. Langkah ini berpotensi menjadi katalis positif menjelang review MSCI pada November mendatang," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

IHSG mampu mempertahankan penguatan hingga akhir perdagangan sesi I, Senin (20/7/2026). Indeks naik 0,86 persen ke level 6.228,91 dengan 398 saham menguat, 188 saham melemah, dan 205 saham stagnan.

Penguatan IHSG turut ditopang reli saham-saham migas seiring lonjakan harga minyak dunia. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk. naik 3,25 persen, PT Energi Mega Persada Tbk. menguat 4,03 persen, dan PT Elnusa Tbk. naik 2,34 persen.

BRI Danareksa Sekuritas menyebut harga minyak Brent naik 2,51 persen menjadi US$90,31 per barel, sedangkan WTI menguat 2,25 persen menjadi US$84,35 per barel. Kenaikan tersebut dipicu eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index