Wall Street Ditutup Melemah Akibat Penurunan Saham Sektor Chip

Wall Street Ditutup Melemah Akibat Penurunan Saham Sektor Chip
Wall Street ditutup melemah pada Kamis (16/7) akibat penurunan saham sektor chip. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Indeks saham utama Negeri Paman Sam atau Wall Street berakhir di area negatif pada transaksi Kamis (16/7).

Saham-saham sektor cip menjadi penyebab utama melemahnya indeks Nasdaq serta S&P 500, penurunan ini terjadi walaupun data ekonomi negara tersebut secara keseluruhan memperlihatkan performa apik serta musim pelaporan keuangan kuartal II bermula dengan capaian yang kuat.

Dikutip dari dari Sumbernya, Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) menyusut 105,32 poin atau 0,20 persen ke level 52.553,32.

Sementara itu, indeks S&P 500 (.SPX) melemah 38,63 poin atau 0,51 persen menjadi 7.533,77, sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) terkoreksi 387,28 poin atau 1,47 persen ke posisi 25.881,95.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sektor teknologi mencatat penyusutan terbesar dengan melemah 1,8 persen.

Penurunan tersebut dipicu oleh anjloknya indeks saham semikonduktor sebesar 4,3 persen, yang membebani performa sektor teknologi sekaligus pasar secara menyeluruh.

Dalam beberapa durasi terakhir, pergerakan saham-saham cip kian menentukan arah gerak indeks-indeks utama Wall Street, utamanya Nasdaq yang dikuasai saham teknologi.

“Hal ini murni disebabkan oleh besarnya bobot saham chip di dalam S&P 500. Tiga atau empat tahun lalu bobotnya sekitar 8 persen, sekarang sudah lebih dari 20 persen. Jika melihat sektor pasar lainnya, sebenarnya kondisinya baik-baik saja,” ujar Senior Wealth Advisor & Market Strategist Murphy & Sylvest, Paul Nolte dikutip dari dari Sumbernya, Jumat (17/7).

Penyusutan saham cip juga terus terjadi walaupun Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), mencatatkan lonjakan keuntungan kuartalan sebesar 77 persen.

Padahal TSMC disebut selaku acuan permintaan dunia industri cip.

Kondisi ini menggambarkan besarnya harapan investor terhadap sektor yang sudah menanjak nyaris 70 persen sejak permulaan tahun.

Walaupun mencatat performa apik, saham TSMC yang ditransaksikan di AS terus melemah 2,3 persen.

Produsen cip memori menjadi kelompok saham dengan penyusutan terdalam.

Saham SanDisk (SNDK.O), Western Digital (WDC.O), Seagate Technology (STX.O), serta Intel (INTC.O) masing-masing melemah antara 5,8 persen sampai 12,6 persen.

“Volatilitas yang sangat tinggi ini tentu membuat investor ritel khawatir ketika melihat nilai portofolionya berfluktuasi tajam. Namun, sejumlah sektor di luar teknologi justru mencatat kinerja yang baik, sehingga kondisi pasar saat ini sangat beragam,” kata Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder, Tim Ghriskey.

Penyusutan Dow Jones tertahan oleh kenaikan saham UnitedHealth Group sebesar 1,2 persen sesudah perusahaan tersebut melaporkan keuntungan yang melampaui harapan analis Wall Street sekaligus menaikkan target performa untuk 2026.

S&P 500 Health Care (.SPXHC) menanjak 2,2 persen, saham United Airlines (UAL.O) menyusut 1,8 persen sesudah lonjakan harga minyak menekan prospek performa perusahaan ke depan.

Sementara itu, saham GE Aerospace (GE.N) melemah 4,1 persen walaupun perusahaan tersebut menaikkan target keuntungan tahun 2026.

Analis menetapkan harapan yang tinggi terhadap musim pelaporan keuangan kuartal II.

Secara agregat, keuntungan emiten anggota S&P 500 diramalkan tumbuh 24,8 persen secara tahunan.

Berdasarkan data terkini dari London Stock Exchange (LSEG), khusus sektor teknologi, keuntungan diproyeksikan melonjak 65,5 persen dibandingkan durasi yang sama tahun lalu.

Serangkaian data ekonomi AS yang dirilis pada Kamis (16/7) memperlihatkan penjualan ritel inti tetap kuat, klaim tunjangan pengangguran berkurang, serta aktivitas manufaktur di kawasan timur laut AS menanjak tajam.

Di sisi lain, data sektor perumahan memperlihatkan penyusutan.

Penjualan rumah yang masih dalam proses transaksi menyusut lebih besar dari proyeksi, sementara sentimen pengembang perumahan memburuk akibat tingginya ongkos pinjaman serta daya beli masyarakat yang masih tertekan.

AS serta Iran kembali melanjutkan saling serang melalui serangan udara, sehingga memperpanjang eskalasi konflik yang sudah berlangsung selama sepekan serta secara otomatis menghapus efek gencatan senjata yang dicapai bulan lalu.

Walaupun demikian, pembebasan seorang warga negara AS oleh Iran memberi indikasi masih terbukanya ruang diplomasi guna mencegah kedua negara kembali terlibat dalam perang berskala penuh.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang melemah lebih banyak dibandingkan saham yang menanjak dengan rasio 1,08 banding 1.

Tercatat 351 saham mencetak level tertinggi baru dalam 52 pekan, sedangkan 170 saham menyentuh level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 1.817 saham menanjak serta 2.979 saham melemah, sehingga jumlah saham yang melemah melampaui saham yang menanjak dengan rasio 1,64 banding 1.

Indeks S&P 500 mencatat 42 saham yang menyentuh level tertinggi baru dalam 52 pekan serta dua saham mencetak level terendah baru.

Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 197 saham di level tertinggi baru serta 155 saham di level terendah baru.

Volume transaksi di seluruh bursa saham AS mencapai 17,19 miliar saham, lebih kecil dibandingkan rata-rata volume harian sebesar 21,19 miliar saham dalam 20 sesi transaksi terakhir.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index