JAKARTA - Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI030-T3 yang mempunyai durasi tiga tahun menjadi instrumen penanaman modal yang paling banyak dibeli investor sepanjang kurang lebih 10 hari masa penawaran instrumen tersebut.
Analis Keuangan Ahli Madya dan Kepala Tim Pengembangan dan Pendalaman Pasar Surat Utang Negara dari Sumbernya, menerangkan bahwa secara historis penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel, penanam modal perorangan memang lebih menggemari produk dengan durasi singkat.
”Dan ini tidak hanya terjadi di ORI030. Hampir semua SBN Ritel yang kami tawarkan dalam 2 tenor, pasti yang lebih laris adalah tenor pendek. Ini sepertinya memang appetite dari investor individu itu cenderung ke instrumen-instrumen yang jangka pendek,” katanya dalam acara UOB Media Literacy, Kamis (16/7/2026).
Merujuk informasi dari pihak distribusi per Kamis (16/7/2026) jam 18.16 WIB, penjualan tertinggi masih didukung oleh ORI030-T3 bertenur tiga tahun.
Varian dengan imbal hasil tetap 6,9% itu sudah diserap kurang lebih 97% atau sebanding Rp19,28 triliun, sehingga hanya menyisakan pagu kurang lebih 3% atau Rp596,14 miliar.
Sementara itu, ORI030-T6 dengan durasi enam tahun serta imbal hasil tetap 7% sudah mencatatkan pesanan kurang lebih Rp3,19 triliun atau 63,9% dari pagu yang disiapkan.
Adapun sisa pagu durasi tersebut masih mencapai 36,1% atau kurang lebih Rp1,80 triliun.
Dengan demikian, seluruh pesanan ORI030 sudah mencapai kurang lebih Rp22,47 triliun, terdiri atas Rp19,28 triliun pada durasi tiga tahun serta Rp3,19 triliun pada durasi enam tahun.
Meskipun begitu, dari Sumbernya menerangkan bahwa pihak pengelola utang negara tetap mengeluarkan dua durasi dalam setiap pengeluaran SBN Ritel guna mempertahankan rata-rata waktu jatuh tempo Surat Berharga Negara.
Kini, tingkat rata-rata waktu jatuh tempo negara disebut ada pada rentang 8 tahun.
”Dengan menawarkan SBN Ritel dalam 2 tenor, maka ini juga dapat berkontribusi dalam menjaga atau mencapai ATM sebagaimana yang kami targetkan,” tegasnya.
Sedikit berbeda, pihak mitra distribusi sebelumnya memperkirakan durasi lama akan lebih diminati penanam modal.
Menurutnya, penanam modal perorangan bakal berupaya mempertahankan imbal hasil yang lebih tinggi.
”Kami lihat akan banyak yang menjaga yield. Jadi demand kemungkinan lebih banyak ambil tenor yang lebih panjang,” kata COO dari Sumbernya, dikutip Kamis (16/7/2026).