JAKARTA – Kinerja produk asuransi unitlink berbasis saham tercatat mengalami tekanan paling besar sepanjang semester I 2026. Data Infovesta menunjukkan bahwa rata-rata return unitlink saham mencapai minus 13,39 persen secara year to date hingga Juni 2026.
Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menyebutkan bahwa pelemahan ini dipengaruhi oleh kondisi pasar modal Indonesia yang masih lesu. "IHSG yang masih berada dalam tekanan membuat kinerja unitlink saham ikut mencatatkan return negatif. Meski begitu, penurunan unitlink saham masih sedikit lebih baik dibandingkan reksadana saham," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah melemah 34,74 persen secara year to date hingga akhir Juni 2026. Kondisi pasar modal yang belum menunjukkan sinyal penguatan signifikan, ditambah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, diperkirakan terus membebani kinerja produk ini.
"Namun, bagi nasabah yang rutin melakukan pembelian unitlink secara berkala, kondisi ini justru memberikan kesempatan memperoleh harga yang lebih murah, dengan asumsi pasar akan membaik pada 2027," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Tekanan pada unitlink saham juga semakin dalam dibandingkan posisi Mei 2026 yang berada di level minus 8,76 persen.
Selain produk saham, unitlink berbasis campuran mencatatkan kinerja negatif dengan rata-rata return minus 8,93 persen hingga Juni 2026. Sementara itu, unitlink pendapatan tetap juga mencatatkan kinerja negatif sebesar minus 1,64 persen pada periode yang sama.
Sebaliknya, unitlink berbasis pasar uang menjadi satu-satunya kategori yang berhasil mencatatkan kinerja positif. Rata-rata return unitlink pasar uang mencapai 1,58 persen hingga Juni 2026 karena didorong oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Produk pasar uang diperkirakan masih berpeluang mempertahankan tren positif tersebut dalam waktu dekat. Kategori ini tetap diuntungkan oleh kondisi suku bunga tinggi yang memberikan keuntungan pada instrumen pasar uang.