Bukan Sekadar Valuasi, Ini Alasan Asing Belum Borong Saham Besar

Bukan Sekadar Valuasi, Ini Alasan Asing Belum Borong Saham Besar
Ilustrasi: Investor asing menahan diri membeli saham besar meski valuasi rendah karena faktor makro dan fundamental. (Foto: NET)

JAKARTA – Sejumlah saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia saat ini diperdagangkan pada level valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya. Namun, kondisi tersebut belum cukup kuat untuk mendorong investor asing melakukan akumulasi secara agresif.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa keengganan investor asing bukan semata-mata disebabkan oleh faktor valuasi. Meskipun harga saham lebih murah, investor global tetap mengutamakan faktor fundamental dan makroekonomi sebelum menambah eksposur di pasar saham domestik.

"Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata valuasi. Investor asing lebih mempertimbangkan beberapa aspek," ujar Nafan, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Menurutnya, investor asing kini lebih mencermati arah kebijakan suku bunga global yang memengaruhi arus modal internasional. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi perhatian utama karena berdampak pada potensi keuntungan investasi.

Di sisi lain, kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia, kepastian regulasi, serta prospek pertumbuhan laba emiten dalam satu hingga dua tahun ke depan menjadi pertimbangan utama. Valuasi yang murah saja belum cukup menarik dana asing jika berbagai faktor makro belum memberikan keyakinan yang kuat.

Nafan mencatat bahwa pelemahan harga saham saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dibandingkan fundamental emiten secara individu. Tekanan nilai tukar rupiah, penyesuaian suku bunga global, serta fluktuasi cadangan devisa menjadi pendorong utama arus keluar modal dari pasar saham negara berkembang.

"Faktor makro, tekanan pada nilai tukar rupiah, penyesuaian suku bunga global, serta fluktuasi cadangan devisa menjadi penentu utama pergerakan capital outflow dari aset ekuitas emerging markets," papar Nafan, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Di sisi lain, fundamental sejumlah emiten masih relatif solid. Perusahaan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tetap mencatatkan pertumbuhan profitabilitas serta efisiensi operasional.

"Faktor fundamental, secara internal, emiten seperti BBCA, BMRI, maupun TLKM sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan profitabilitas dan efisiensi operasional yang terjaga, mencerminkan ekonomi domestik yang masih tumbuh di kisaran 5 persen," ujar Nafan, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Saham berkapitalisasi besar yang diperdagangkan di bawah valuasi historis saat ini lebih mencerminkan peluang investasi jangka panjang daripada sekadar jebakan nilai. Nafan menilai emiten besar di Indonesia memiliki fundamental kuat karena menguasai pangsa pasar strategis.

"Big caps Indonesia menguasai pangsa pasar esensial (perbankan, telekomunikasi, infrastruktur konsumen) yang akan langsung menangkap momentum ketika siklus makro berbalik arah dan daya beli domestik kembali berakselerasi," kata Nafan, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, sependapat bahwa aliran dana global ke aset berisiko masih terbatas akibat kondisi likuiditas yang ketat. Besarnya utang pemerintah di berbagai negara yang jatuh tempo membuat investor cenderung lebih selektif dalam mengalokasikan dana.

"Dari sisi fund global, ada faktor ketatnya likuiditas karena utang pemerintah jatuh tempo, sehingga apresiasi terhadap aset high risk seperti saham masih bersifat selektif di developed market," ucap Faris, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ia menambahkan bahwa keterbatasan likuiditas tersebut tecermin dari rendahnya nilai transaksi harian di bursa. Kondisi ini justru menjadi peluang bagi investor untuk mengoleksi saham dengan fundamental kuat dan rekam jejak bisnis yang prudent.

"Untuk emiten dengan bisnis yang sudah dikenal prudent, tentu ini bisa dilihat sebagai opportunity, sedangkan bagi saham dengan middle to small cap, kondisi ekonomi yang kurang menentu sering kali membuat bisnis kurang baik, karena modal kerja yang tinggi," ungkap Faris, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index