Saham BBCA Bergerak Impresif, Potensi Naik ke Level 6.250-6.375

Saham BBCA Bergerak Impresif, Potensi Naik ke Level 6.250-6.375
Ilustrasi: Saham BBCA mencatat kenaikan 1,24 persen pada perdagangan Senin, 6 Juli 2026. (Foto: NET)

JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan pergerakan impresif selama empat hari bursa terakhir. Pada perdagangan Senin (6/7/2026), saham emiten bank swasta tersebut ditutup naik 1,24 persen ke level Rp 6.125.

Volume perdagangan mencapai 148,68 juta saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 35.976 kali dan nilai transaksi sebesar Rp 907,22 miliar. Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 168,12 miliar pada saham BBCA.

Sejak 1 Juli 2026, saham BBCA secara konsisten mencatatkan net buy investor asing dengan total akumulasi sebesar Rp 640,82 miliar hingga 6 Juli kemarin. CGS International Sekuritas menyoroti BBCA sebagai salah satu saham pilihan untuk perdagangan Selasa (7/7/2026).

Broker efek tersebut merekomendasikan spec buy untuk BBCA dengan level support pada 6.000 dan instruksi cut loss apabila harga menembus ke bawah 5.875.

“Jika tidak break di bawah 6.000, potensi naik ke 6.250-6.375 short term,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

BRI Danareksa Sekuritas menetapkan pandangan overweight terhadap sektor perbankan, dengan preferensi pada BBCA dan PT BTPN Syariah Tbk (BTPS). Pandangan overweight tersebut disertai sikap defensif untuk menghadapi risiko kualitas aset perbankan.

“Kami menilai koreksi harga saham bank yang terlalu dalam sudah berlebihan, jika dibandingkan dengan fundamental bank yang mendasarinya,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan BBCA sebagai pilihan utama karena memiliki return on assets (ROA) yang kuat dan leverage rendah. Selain itu, BBCA dan BTPS dinilai lebih mampu meredam dampak kenaikan cost of credit (CoC).

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.900 dan beli untuk saham BTPS dengan target harga Rp 1.400. Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah memburuknya kualitas aset secara signifikan serta kompresi net interest margin (NIM) yang ekstrem.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index