Inflasi Energi, Suku Bunga Global Diprediksi Tinggi Hingga 2028

Inflasi Energi, Suku Bunga Global Diprediksi Tinggi Hingga 2028
Ilustrasi: Bank sentral global diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi hingga 2028 akibat inflasi energi. (Gambar: NET)

JAKARTA – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memang telah mereda, namun dampaknya bagi ekonomi dunia diperkirakan akan bertahan dalam beberapa tahun ke depan. Menurut analisis Bloomberg Economics pada Senin (6/7/2026), bank sentral berbagai negara diproyeksi menahan suku bunga pada level lebih tinggi hingga 2028 dibandingkan dengan proyeksi sebelum konflik Timur Tengah terjadi.

Situasi tersebut dipicu oleh lonjakan inflasi akibat gangguan pasokan energi selama masa perang. Terhambatnya distribusi minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz mendorong kenaikan harga energi yang berdampak pada berbagai sektor ekonomi.

Bloomberg Economics memperkirakan jalur suku bunga global dapat bertahan hingga 0,5 poin persentase lebih tinggi daripada proyeksi sebelum perang. Meski kesepakatan damai sementara telah dicapai, tekanan inflasi dinilai belum sepenuhnya hilang karena biaya energi terus merembet ke harga barang dan jasa.

Selain itu, lonjakan investasi di sektor kecerdasan buatan dinilai berpotensi menambah tekanan inflasi dalam jangka menengah. Bank sentral kini bersikap lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter akibat pengalaman inflasi pascapandemi Covid-19.

"Bank Sentral masih dibayangi pengalaman inflasi setelah pandemi. Ketika harga kembali melonjak, meski hanya sementara, keinginan untuk melonggarkan kebijakan menjadi lebih terbatas," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Akibatnya, masyarakat dan dunia usaha harus menghadapi biaya pinjaman yang tinggi lebih lama untuk berbagai jenis kredit.

Bloomberg Economics memperkirakan bank sentral utama akan tetap waspada dalam mengubah kebijakan moneter. The Fed di Amerika Serikat diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen hingga akhir 2026.

Penurunan suku bunga baru diantisipasi terjadi pada semester pertama 2027 jika tekanan inflasi mereda dan produktivitas meningkat. Sementara itu, Bank Sentral Eropa masih berpeluang menaikkan suku bunga sekali lagi karena kekhawatiran kenaikan biaya energi memicu lonjakan upah.

Di Jepang, Bank of Japan diperkirakan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter secara bertahap. Pelemahan nilai tukar yen dan inflasi yang masih melampaui target menjadi pendorong utama pertimbangan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Di Indonesia, Bank Indonesia diproyeksikan menghadapi tekanan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Bank Indonesia diprediksi menaikkan suku bunga acuan menjadi 6 persen pada akhir 2026 dan menjaganya hingga 2027.

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan inflasi domestik dinilai belum sepenuhnya berakhir meski harga minyak dunia mulai menurun. Selain itu, potensi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed dapat mempersempit selisih imbal hasil aset Indonesia, yang berisiko menekan arus modal asing serta nilai tukar rupiah.

Inflasi Indonesia juga diperkirakan melampaui batas atas target Bank Indonesia sebesar 3,5 persen pada paruh kedua 2026. Hal tersebut terjadi karena dampak kenaikan harga energi mulai merambat ke rantai pasok dan meningkatnya konsumsi rumah tangga.

Meski biaya pinjaman lebih mahal, Bloomberg Economics menilai ekonomi global masih mampu bertahan sejauh ini. Namun, ketahanan tersebut akan terus diuji oleh ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang berpotensi memicu guncangan baru.

Bagi bank sentral, menekan inflasi akan tetap menjadi prioritas utama. Kondisi ini menuntut suku bunga tetap bertahan di level tinggi lebih lama dari estimasi sebelum perang terjadi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index