JAKARTA – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran mungkin telah mereda, namun dampaknya terhadap perekonomian global diprediksi masih akan terasa dalam beberapa tahun ke depan. Bank-bank sentral di berbagai negara diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level yang lebih tinggi hingga tahun 2028 dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Situasi tersebut dipicu oleh lonjakan inflasi akibat terganggunya pasokan energi selama masa perang berlangsung. Bloomberg Economics memperkirakan jalur suku bunga global dapat bertahan hingga 0,5 poin persentase lebih tinggi daripada proyeksi sebelum konflik pecah.
Tekanan inflasi dinilai belum sepenuhnya menghilang meskipun harga minyak telah menurun setelah kesepakatan damai sementara dicapai. Dampak kenaikan biaya energi masih terus mengalir ke harga barang dan jasa, ditambah tekanan dari investasi di bidang kecerdasan buatan.
Bank sentral kini cenderung lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter akibat pengalaman lonjakan inflasi pascapandemi. "Bank sentral masih dibayangi pengalaman inflasi setelah pandemi. Ketika harga kembali melonjak, meski hanya sementara, keinginan untuk melonggarkan kebijakan menjadi lebih terbatas," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Akibatnya, masyarakat dan pelaku usaha akan menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama. Kebijakan ini mencakup berbagai jenis kredit, mulai dari perumahan, konsumsi, hingga investasi.
Federal Reserve of the United States diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen hingga akhir 2026. Penurunan suku bunga baru diprediksi akan dimulai pada paruh pertama 2027 jika tekanan inflasi mereda dan produktivitas meningkat.
Bank Sentral Eropa juga masih berpeluang menaikkan suku bunga sekali lagi untuk menahan kenaikan upah dan inflasi. Sementara itu, Bank of Japan diperkirakan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter secara bertahap guna merespons pelemahan yen.
Bank Indonesia diproyeksikan akan menghadapi tekanan untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. BI diperkirakan menaikkan suku bunga acuan menjadi 6 persen pada akhir 2026 dan mempertahankannya hingga 2027.
Inflasi di Indonesia sendiri berpotensi melampaui batas atas target BI sebesar 3,5 persen pada paruh kedua 2026. Hal tersebut terjadi karena dampak kenaikan harga energi mulai merambat ke rantai pasok domestik dan meningkatnya konsumsi rumah tangga.
Meski biaya pinjaman lebih mahal, ekonomi global sejauh ini dinilai masih mampu bertahan menghadapi tantangan tersebut. Namun, ketahanan ekonomi dunia masih akan terus diuji oleh ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat di masa depan.