JAKARTA – Emiten ritel dan distribusi perangkat elektronik, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), beserta anak usahanya, PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), secara serentak membagikan dividen tunai berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) yang dilaksanakan pada waktu yang berdekatan. ERAL menyelenggarakan RUPS terlebih dahulu pada Selasa, 23 Juni 2026, dengan keputusan pembagian dividen sebesar Rp41,5 miliar atau Rp8 per saham.
Berselang enam hari kemudian, pada Senin, 29 Juni 2026, perusahaan induknya, yaitu ERAA, menyepakati pembagian dividen senilai Rp389,62 miliar atau Rp25 per saham. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Stocknow.Id, Hendra Wardana, berpendapat bahwa momentum RUPS Grup Erajaya tahun ini memberikan sinyal positif bagi pasar.
Menurutnya, aksi korporasi di mana induk dan anak usaha membagikan dividen dalam waktu yang berdekatan menunjukkan bahwa grup tersebut memiliki arus kas operasional yang solid. "Dividen pada dasarnya adalah distribusi laba yang telah dihasilkan. Keberanian membagikan dividen menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap kesehatan keuangan perusahaan," ujar Hendra sebagaimana dilansir dari sumber berita dalam pernyataan resminya, Sabtu (4/7/2026).
Walau demikian, Hendra mengingatkan bahwa investor saat ini tidak hanya memperhatikan besar-kecilnya nominal dividen, tetapi juga menyoroti apakah perusahaan memiliki ruang yang cukup untuk membiayai ekspansi. Selama kas perusahaan kuat dan ekspansi dapat terdanai tanpa harus menambah beban utang yang berlebihan, dividen akan dianggap sebagai sinyal terjaganya kualitas arus kas.
"Yang dihargai pasar bukan hanya royal membagi dividen, melainkan kemampuan menciptakan kas yang berulang dan berkelanjutan," katanya sebagaimana dilansir dari sumber berita. Pembagian dividen ERAA didukung oleh pencapaian penjualan bersih konsolidasi yang mencapai Rp76,6 triliun sepanjang 2025, yang mencakup kinerja seluruh anak usaha, termasuk ERAL.
Dari total penjualan tersebut, laba kotor yang dicatatkan mencapai Rp8,35 triliun dengan margin laba kotor sebesar 10,9 persen. Adapun pada kuartal I-2026, penjualan bersih ERAA mengalami pertumbuhan 41,1 persen secara tahunan menjadi Rp22,4 triliun.
Sementara itu, ERAL membukukan penjualan sebesar Rp6,49 triliun sepanjang 2025, yang tumbuh 34,1 persen secara tahunan, dengan Same Store Sales Growth (SSSG) mencapai 20,1 persen. Hendra menilai capaian SSSG tersebut mengindikasikan bahwa toko yang sudah beroperasi tetap mampu meningkatkan penjualan, sebuah indikator yang dinilai lebih berkualitas ketimbang pertumbuhan yang berasal dari pembukaan gerai baru.
"Artinya, permintaan konsumen terhadap produk active lifestyle masih kuat dan daya beli di segmen itu relatif terjaga," kata Hendra sebagaimana dilansir dari sumber berita. Langkah ERAA dalam menghadirkan merek seperti XPENG di bisnis kendaraan listrik serta CHAGEE di sektor food and beverage, menurut Hendra, menunjukkan upaya perusahaan dalam membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih beragam.
Erajaya tengah bertransformasi dari sekadar distributor produk teknologi menjadi perusahaan yang membangun ekosistem gaya hidup. Diversifikasi ini dinilai mampu memperpanjang siklus pertumbuhan serta mengurangi ketergantungan pada lini bisnis tertentu yang sangat rentan terhadap siklus pergantian produk.
Selain itu, sentimen positif lain dapat muncul dari ekspansi ke luar Pulau Jawa seiring meningkatnya daya beli dan adopsi teknologi di kota-kota lapis kedua dan ketiga. Di sisi lain, Hendra melihat tantangan yang dihadapi Erajaya kian kompleks, di mana fokus utama harus bergeser dari sekadar mengejar omzet menjadi memastikan bahwa pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan laba yang berkualitas.
"Manajemen harus mampu membuktikan merek baru berkontribusi terhadap laba, bukan sekadar menambah portofolio bisnis," pungkasnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.